Orde Baru : Pengorbanan Demokrasi Bernegara Dalam Strategi Pembangunan Nasional

Thursday, 21 October 2010


Mulai tanggal 1 Oktober 1965, Presiden Soekarno bukan lagi merupakan satu-satunya pemimpin tertinggi di Indonesia. Sejak hari itu, Panglima Kostrad Mayjen Soeharto secara bertahap mulai membangun kekuatan tandingan.[1] Soeharto dengan sigap berhasil memulihkan situasi keamanan dengan mengambil langkah-langkah strategis. Dapat dikatakan ia adalah satu-satunya orang yang paling cepat membaca situasi peta politik pasca gerakan coup yang gagal itu. Pada tanggal 27 Oktober bertempat di guesthouse istana, di depan wakil-wakil partai politik, Presiden memperingatkan besarnya bahaya yang sedang dihadapi sambil memberikan pengertian bahwa reaksi yang diberikan sebagian masyarakat atas terjadinya G30S sudah berlebihan.[2] Walaupun belum ditemukan bukti yang cukup akurat, namun PKI sudah dituduh sebagai penanggung jawab utama G30S yang mengakibatkan kematian enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat. Akhirnya tuntutan terhadap Presiden Soekarno untuk membubarkan PKI berikut organisasi massanya mulai marak dimana-mana.

Demo mahasiswa turun ke jalan secara besar-besaran dimulai pada 10 Januari 1966. Pada hari itu mahasiswa berkumpul di halaman FKUI.[3] Kemudian hadirlah Kolonel Sarwo Edie Wibowo, Komandan RPKAD, lalu ditemani oleh Mayor C.I. Santoso, salah satu komandan batalionnya yang terkenal dalam penumpasan G30S. Saat itu mahasiswa mulai menyampaikan tuntutannya yang dikenal sebagai Tritura (Tri Tuntutan Rakyat), ketiga tuntutan itu antara lain : bubarkan PKI, turunkan harga-harga, dan berhentikan Kabinet Dwikora. Dalam setiap demo, terkadang terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan pemuda PNI pimpinan Ali Surachman, pendukung Bung Karno, yang melancarkan demo tandingan terhadap KAMI. Selain terjadi demo besar-besaran di setiap kota, diwaktu yang bersamaan juga mulai terjadi pembantaian massal simpatisan PKI di berbagai daerah terutama di Jawa Timur dan Bali. Korban atas pembantaian banyak dari golongan pekerja, semisal, guru yang secara intensif mempengaruhi generasi muda agar mendukung perjuangan PKI.[4]
Akibat peristiwa G30S dan rentetan dinamika politik sesudahnya, termasuk demonstrasi oleh mahasiswa, Presiden Soekarno secara perlahan mulai kehilangan kekuasaannya. Perannya sebagai kepala negara semakin terenggut lagi ketika mengeluarkan Supersemar pada 11 Maret 1966, yang artinya secara tidak langsung menyerahkan kekuasaannya kepada Soeharto sebagai pengemban surat tersebut. Sepak terjang Soeharto semakin tidak terbendung, meskipun Presiden Soekarno menegaskan bahwa Supersemar bukanlah surat penyerahan kekuasaan, namun Soeharto terus menggunakannya seolah-olah surat itu adalah surat penyerahan kekuasaan. Penyerahan pemerintahan kepada Soeharto baru terlaksana pada 22 Februari 1967. Dituntaskan melalui sidang istimewa Maret tahun yang sama, MPRS mencabut mandat Soekarno dan mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Titel penuh Soeharto sebagai Presiden baru secara pasti diberikan setahun kemudian lewat suatu keputusan MPRS pada 27 Maret 1968.[5] Soeharto melakukan kebijakan politik pertamanya dengan pencopotan para pejabat pemerintah yang dianggap sebagai antek atau kroni Soekarno. Banyak yang mengistilahkan kebijakan politik tersebut sebagai De-soekarnoisasi.
Keruntuhan Orde Lama dan kelahiran Orde Baru di penghujung tahun 1960-an menandai tumbuhnya harapan-harapan akan perbaikan keadaan sosial, ekonomi, dan politik.[6] Prioritas pertama Soeharto adalah menegakkan kekuasaan atas seluruh wilayah negara dan meyakinkan Barat untuk memulai pengaliran bantuan keuangan dan investasi untuk menyelamatkan ekonomi yang mengalami kemerosotan tajam.[7] Rehabilitasi ekonomi menjadi masalah utama yang harus segera diselesaikan Orde Baru demi terpeliharanya dukungan rakyat yang menjadi legitimasi kekuasaannya.[8] Soeharto membuang gagasan “politik sebagai panglima” warisan Soekarno dan merubahnya dengan gagasan “ekonomi sebagai panglima. Lembaga eksekutif selalu memegang peranan pokok dalam proses pembuatan kebijakan, sedangkan peranan legislatif akhirnya kurang begitu penting. Dengan batas-batas tertentu, akhirnya Soeharto dapat menjaga kelangsungan peranannya di bawah simbol-simbol pembangunan yang segera akan ia proses.
Kabinet pertama yang dibentuk Presiden Soeharto setelah resmi dilantik sebagai Presiden RI kedua dinamakan “Kabinet Pembangunan”. Kabinet ini dibentuk pada 6 Juni 1968.[9] Saat itu Soeharto berkeyakinan, “Kabinet Pembangunan I yang merupakan kombinasi antara tenaga-tenaga ahli dari lingkungan universitas dan ABRI, mengawali era baru kehidupan bangsa Indonesia”.[10] Soeharto memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utama dalam setiap kebijakan yang ia jalankan. Pada 15 Juni kemudian diangkatlah beberapa orang teknokrat ekonom terkemuka sebagai tim ahli ekonomi presiden. Mereka ini umumnya merupakan staf pengajar senior di Fakultas Ekonomi UI yang diketuai oleh Widjojo Nitisastro. Widjojo termasuk dalam generasi mainsteam atau kelompok arus utama yang berafiliasi dengan Bank Dunia. Kerja sama erat antara Bank Dunia dan para pejabat Indonesia ini merupakan bagian dari “hubungan khusus” bank tersebut dengan Indonesia. Sebagai contoh lain, Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang tidak perlu menandatangani surat pernyataan (letter conditionality) resmi, untuk mendapatkan pinjaman Bank Dunia.[11]
Pemerintahan Orde baru pimpinan Soeharto juga menciptakan paradigma baru dalam sektor ekonomi yang sebagian besar merupakan antitesis dari paradigma Orde Lama. Perbedaan yang nyata adalah bahwa Soeharto menerapkan azas pragmatisme dalam ekonomi yang dijalankan oleh para profesional dengan memperoleh dukungan negara Barat. Pragmatisme disini didefinisikan sebagai tindakan politik yang menitikberatkan pada azas manfaat tanpa terpengaruh oleh ideologi tertentu (mendasar). Pragmatisme ekonomi ditunjukkan lewat penerapan kebijakan makro ekonomi khas barat (neo-liberal) yang menjadi rujukan bagi strategi pembangunan. Strategi pembangunan yang dilaksanakan oleh Soeharto adalah strategi pembagunan yang berlandaskan pada pemikiran neoklasik kuno yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi sebagai fokus utama. Dalam paradigma ini diyakini bahwa pertumbuhan merupakan ukuran utama keberhasilan pembangunan, dan hasil pertumbuhan akan dapat pula dinikmati masyarakat sampai di lapisan yang paling bawah, baik dengan sendirinya atau melalui campur tangan pemerintah.[12]
Tahun 1969 bisa dikatakan sebagai masa akhir transisi dari Orde Lama ke Orde Baru. Inflasi akhirnya benar-benar dapat dikendalikan.[13] Tak dapat disangkal bahwa salah satu pilar keberhasilan rezim ini adalah interaksi mereka dengan sistem ekonomi internasional yang kapitalistik. Selanjutnya Orde Baru mulai memfokuskan perhatian utamanya dari stabilisasi ekonomi menuju pembangunan dengan menetapkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita I), untuk tahun 1969-1974. Di tahun yang sama, Orde Baru juga telah mampu menyelesaikan masalah lama dengan bergabungnya Irian sebagai provinsi ke-26 RI. Bergabungnya Irian ke pangkuan Indonesia amat direspon positif oleh pihak Barat terutama Amerika yang telah bersiap untuk mengeksploitasi SDA di wilayah itu. Amerika menyadari bahwa ancaman kekuatan massa terhadap interest ekonomi dan politiknya di bumi pertiwi ini hanya bisa dipatahkan dan dikuasai lewat pembentukan pemerintahan dictator yang dipimpin oleh kaum militer.
Stabilitas ekonomi yang telah diperoleh Orde Baru selanjutnya mulai melahirkan demokrasi dengan gaya otoriterianisme. Semua hal seolah dituntut ke dalam ide pembagunan ekonomi. Stabilitas politik diprioritaskan pada awal Orde Baru karena pengalaman ketidakstabilan sistem politik demokrasi liberal pada kurun waktu 1945-1959, bahkan juga dalam periode demokrasi terpimpin 1959-1966.[14] Sistem politik di bawah Orde baru secara tegas diterapkan dalam konsep integralisme total. Hasilnya Soeharto tidak menginginkan adanya tempat bagi oposisi gaya Barat di alam demokrasi Pancasila. Menjelang Pemilihan Umum 1971 sangat terlihat bahwa Soeharto ingin menjadikan Golkar sebagai pemenang dalam ajang tersebut. Hal ini jelas terlihat ketika persiapan menjelang dilaksanakannya Pemilihan Umum, banyak dari pegawai pemerintah yang diarahkan untuk mendukung dan memenangkan Golkar di daerah pemilihan mereka. Golkar yang pada saat itu tidak ingin disebut sebagai partai politik akhirnya memperoleh kemenangan besar yaitu 63,8 % suara pemilih.
Orde Baru kemudian menjadi rezim yang sungguh sentralistik, terpusat pada Soeharto sebagai pengendali utama stabilitas ekonomi dan politik. Secara perlahan Soeharto mulai memasung hak-hak politik rakyatnya dengan ketat. Orde Baru juga mengisolasi masyarakat melalui perundang-undangan dan keputusan yang memungkinkan pembatasan bagi kegiatan organisasi massa. Soeharto amat gigih untuk menciptakan sistem politik terbaru demi mengatasi keragaman pandangan yang memecah belah iklim politik di tanah air. Dengan tegas, Soeharto menolak ide mengenai persaingan ideologi, baginya model politik yang demikian tidak cocok untuk Indonesia. Di lain pihak, masyarakat semakin hari semakin terasingkan dari lingkaran kekuasaan dan pembuatan kebijakan. Media massa sebagai wadah kekuatan informasi yang strategis pun dikebiri oleh pemerintah dan diposisikan menjadi kolaborator struktural bagi negara. Bagi beberapa pengkritik, seperti Goenawan Mohamad, “Kita membutuhkan suatu pemerintah pembangunan yang kuat, tapi tak boleh dilupakan, bahwa kekuatan itu juga harus ditunjukan oleh penguasa sendiri, antara lain dengan bersikap tenang menanggapi kritik”.[15]
Munculnya Angkatan Darat ke posisi dominan yang tak tertandingi dalam pemerintahan disambut hangat oleh sebagian kecil kalangan politik sipil, sedangkan sebagian terbesar yang lain menerima itu sebagai suatu kenyataan yang tak terhindirkan.[16] Sebagaimana diketahui, dalam doktrin TRI UBAYA GAKTI hasil seminar TNI-AD I, untuk pertama kalinya dirumuskan doktrin Dwifungsi ABRI.[17] Bagaimana ABRI memandang peran politisnya bisa diperoleh dari penafsiran militer atas Pancasila sebagai ideologi “integralistik”. Para perwira senior menyatakan bahwa karena budaya Indonesia itu “integralistik”, maka peran sosiopolitis ABRI yang permanen bisa dibenarkan.[18] Selanjutnya Soeharto sangat selektif dalam memelih pembantu dekatnya antara lain dengan kriteria “elite militer”, muncul nama-nama seperti Ali Moertopo, Soedjono Humardani, Soedomo, Sutopo Juwono, dan Soemitro dalam jajaran pemerintahan elite negeri ini. Tak jarang terjadi konflik dalam tubuh pemerintahan Soeharto akibat penumpukan para petinggi militer yang ia ciptakan sendiri.
Persaingan faksi militer di dalam pemerintahan terbawa sampai ke urusan publik, terutama mengenai penanaman modal Jepang di Indonesia. Jepang mengambil 53% ekspor Indonesia pada tahun 1973 (71% diantaranya berupa minyak) dan memasok lebih dari 29% impor Indonesia. Di samping itu, Jepang lebih menonjol karena investasi mereka yang meningkat pada industri pabrik di Jawa, yang justru menghambat pertumbuhan ekonomi para pengusaha pribumi. Jepang dipandang secara luas sebagai pemeras ekonomi Indonesia, dibantu oleh orang yang dekat dengan istana kepresidenan. Kritik dilontarkan terutama kepada Ali Moertopo dan salah satu kolega terdekat Soeharto lainnya yaitu Mayjen. Sudjono Humardani. Keduanya dianggap sebagai penasihat kebijakan Presiden dan juga perantara bagi para investor asing (terutama Jepang) yang mencari kebaikan hati pemerintah.
Kedatangan PM Jepang Tanaka Kakuei ke Jakarta pada Januari 1974 dijadikan momentum bagi para Mahasiswa untuk demonstrasi menolak masuknya modal asing. Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan Mahasiswa tidak berhasil menorobos masuk pangkalan udara tersebut.[19] Hal tersebut menimbulkan kemarahan para Mahasiswa dan puncaknya menimbulkan kerusuhan serta huru – hara di Jakarta. Bagi Soeharto kerusuhan Malari telah mecoreng keningnya karena peristiwa itu terjadi di depan tamu Negara, PM Jepang.[20] Banyak opini yang berkembang bahwa peristiwa kerusuhan tersebut hanyalah persaingan faksi ditubuh elite militer. Rivalitas utama terjadi antara Soemitro dengan Ali Moertopo. Presiden Soeharto sendiri pada saat itu lebih cenderung merapat kepada kubu Ali Moertopo sang anak emasnya. Hal ini terbukti dengan pencopotan Soemitro sebagai Pangkomkabtib dan didepaknya Sutopo Juwono dari kepala Bakin.
Rasa tidak puas masyarakat terhadap rezim Orde Baru mulai merebak di pertengahan tahun 1970-an. Kritik yang muncul ketika itu mengenai kebijakan pembangunan yang menurut mereka terlampau kapitalistik dan hanya pertumbuhan ekonomi ketimbang pemerataan. Demokrasi dalam kehidupan bernegara juga ditekan oleh pemerintah yang cenderung semakin otoriter. Pers dan media massa dibatasi perannya lewat kebijakan pembreidelan. Masyarakat ditakuti-takuti oleh aparat keamanan terutama militer yang telah menguasai seluruh kehidupan sipil, lalu teror yang sering dilakukan terhadap kaum intelektual di berbagai kampus.
Selanjutnya semua hal ini mejadi sebuah sikap status quo yang amat dinikmati oleh Soeharto beserta pembantu-pembantunya dalam tahapan menuju kekuasaan yang terus mereka pegang selama puluhan tahun berikutnya.

Catatan Kaki

[1] James Luhulima, Menyingkap Dua Hari Tergelap Di Tahun 1965: Melihat Peristiwa G30S Dari Perspektif Lain, (Jakarta: Kompas, 2006) Hal. 177.

[2] H. Maulwi Saelan, Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa, (Jakarta: Visimedia, 2008) Hal. 234.

[3] Firman Lubis, Jakarta 1960-an: Kenangan Semasa Mahsiswa, (Jakarta: Masup Jakarta, 2008) Hal. 242.

[4] Tim Redaksi, 10 Kisah Genocide, (Yogyakarta: Bio Pustaka, 2008) Hal. 95.

[5] John D. Legge, Sukarno: Biografi Politik, (Jakarta : Sinar Harapan, 2001) Hal. 466.

[6] Eep Saefulloh Fatah, Pengkhianatan Demokrasi Ala Orde Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000) Hal. 20.

[7] David Bourchier dan Vedi R. Hadiz, Pemikiran Sosial Dan Politik Indonesia : Periode 1965-1999, (Jakarta: Grafiti, 2006) Hal. 38.

[8] Denny B.C. Hariandja, Birokrasi Nan Pongah: Belajar Dari Kegagalan Orde Baru, (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1999) Hal. 67.

[9] Firman Lubis, Jakarta 1970-an: Kenangan Sebagai Dosen, (Jakarta : Ruas, 2010) Hal. 21.

[10] G. Dwipayana dan Ramadhan K.H., Soeharto: Pikiran, Ucapan, Dan Tindakan Saya, (Jakarta :PT Citra Lamtoro Gung Persada) Hal. 238.

[11] Jeffrey A. Winters, Dosa-Dosa Politik Orde Baru, (Jakarta : Djambatan, 1999) Hal. 15.

[12] Ginandjar Kartasasmita, Pembangunan Untuk Rakyat : Memadukan Pertumbuhan Dan Pemerataan, (Jakarta : Cides, 1996) Hal. 50.

[13] M. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, (Jakarta: Serambi, 2005) Hal. 582.

[14] Mubyarto, Membangun Sistem Ekonomi, (Yogyakarta: BPFE, 2000) Hal. 22.

[15] “Melayani, Dengan Kritik”, Tempo, 29 Januari 1972.

[16] Harold Crouch, Militer Dan Politik Di Indonesia, (Jakarta: Sinar Harapan, 1999) Hal. 276.

[17] Soebijono dan A.S.S. Tambunan, Dwifungsi ABRI: Perkembangan Dan Peranannya Dalam Kehidupan Politik Di Indonesia, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1997) Hal. 35.

[18] Douglas E. Ramage, Percaturan Politik Di Indonesia: Demokrasi, Islam Dan Ideologi Toleransi, (Yogyakarta: Mata Bangsa, 2002) Hal. 225.

[19] Asvi Warman Adam, Seabad Kontroversi Sejarah, (Yogyakarta: Ombak, 2007). Hal. 81.

[20] Asvi Warman Adam, Membongkar Manipulasi Sejarah, (Yogyakarta: Kompas, 2009). Hal. 127.

Rudi Hermanto, Pendidikan Sejarah 2006


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Pidato SBY, Horatio Nelson & A.W.S Mallaby

Thursday, 2 September 2010

Kecewa, itulah barangkali yang dirasakan oleh rakyat Indonesia seusai menyaksikan Pidato presiden SBY Rabu 01 September 2010 Pkl. 21.00 WIB di Mabes TNI Cilangkap. Betapa tidak isi pidato presiden yang isinya kurang lebih masih bersikap lembut terhadap sikap Malaysia yang telah jelas menginjak-injak kedaulatan bumi pertiwi. Dengan alasan serumpun dan latar belakang historis yang kuat diantara kedua negara pidato presiden kurang memberikan sinyal yang keras terhadap Malaysia. Mengapa tidak berperang saja, kata kata tersebut mungkin ada disebagian besar benak rakyat yang menyaksikan pidato tersebut dan jika para Founding Fathers bangsa ini ada yang masih hidup mungkin mereka langsung mendaftar menjadi sukarelawan Ganyang Malaysia.

Malaysia boleh berbangga dengan kekuatan ALUTSISTA yang canggih, anggran militer sebesar US$ 1.69 Triliun dan pakta pertahanan FPDA (Five Power Defence Arrangements) yang terdiri dari negara Inggris, Singapura, Australia, Selandia baru dan Malaysia.

Namun harus diingat dalam peperangan faktor Moral merupakan hal yang terpenting didalam peperangan. Sejarah telah membuktikan, angkatan laut Italia yang merupakan angkatan laut termodern pada PD II (P.K Ojong “ Perang Eropa” kompas 2004) dipecundangi oleh Sekutu yang mempunyai Moral bertempur yang kuat.

Dalam konteks yang berbeda antara kasus Indonesia & Malaysia barangkali jika kita melihat kebelakang pada awal abad ke 19 ada ambisi Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte untuk menaklukan seluruh Eropa dan Afrika dan menjadikan laut tengah sebagai danau imperium Perancis. Dalam pertempuran di Trafalgar Admiral Inggris, Horatio Nelson berhasil mengomandoi 27 kapal Inggris untuk memukul mundur 33 kapal gabungan Perancis & Spanyol di Trafalgar, alhasil 18 kapal Perancis karam dan sisanya melarikan diri ke Cadiz. Walaupun kemenangan Inggris ini harus ditebus mahal oleh gugurnya Admiral Nelson yang sedang memberi semangat kepada pasukannya karena tertembus peluru oleh sniper di kapal Perancis asal Tyrol. Itulah gambaran mengenai Inggris dengan seorang Admiral briliannya yang berani melawan Perancis yang jumlah armadanya lebih besar tanpa gentar sedikitpun melawan Perancis yang pada saat itu menjadi negara berkekuatan militer besar dan pasukan elit yang handal Imperial Armee Grandee.

Lalu bagaimana kisah Jendral Inggris di Indonesia ? ada suatu peristiwa yakni tentunya pasti kita ingat sebagai seorang warga negara yang baik yakni pertempuran 10 November. Kedatangan tentara sekutu pasca kemenangan mereka dalam perang dunia II yang memboncengi Belanda dengan sebuah aliansi yang bernama AFNEI. Untuk memuluskan tujuan Belanda untuk kembali menjajah Indonesia menghasilkan kematian Brigjen A.W.S Mallaby ditangan para arek – arek Suroboyo.

Bagaimana para pendahulu kita bisa menewaskan seorang Jendral bintang satu tersebut merupakan suatu yang bisa dikatakan prestasi tersendiri yang dilakukan oleh pendahulu kita. Betapa tidak, Inggris baru kehilangan Jendral setelah 5 tahun perang dunia II. dalam kuliah saya bersama seorang sejarawan Dr. Anhar Gonggong beliau menyatakan bahwa Pemuda Indonesia berangkat menuju Surabaya untuk melakukan pertempuran dengan hanya bermodalkan bambu runcing yang dibacakan jampi – jampi oleh para kyai (Saifudin Zuhri “Berangkat dari Pesantren” Gunung Agung 1987). Bukan berati Jendral A.W.S Mallaby tewas dengan sebilah bambu runcing, disamping para pemuda Indonesia yang notabene merupakan bukan tentara professional bertempur menggunakan bambu runcing & Celurit para pemuda tersebut juga menggunakan senjata hasil rampasan dalam pertempuran selama 3 hari tersebut yang berakhir dengan terkibarnya bendera putih tentara Inggris.

Itulah sebuah gambaran bagaimana para pendahulu kita berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan & Kedaulatan negeri ini, seharusnya Presiden yang berlatar belakang militer tak segan - segan menyatakan perang terhadap Malaysia ketimbang harus selalu bersikap lembut dan menunggu diinjak-injak lagi. Apakah hanya karena investasi Malaysia yang hanya US$ 1 Milyar & TKI yang selalu dielu-elukan sebagai pahlawan devisa yang berjumlah 2 juta presiden selalu bersikap lembut. Semestinya pula presiden harus bersikap kongkret terhadap tindakan Malaysia daripada mengajukan nota protes yang tidak pernah digubris oleh pemerintahan Malaysia.

Belajar dari kisah heroik Admiral Horatio Nelson dengan semboyan Angkatan Laut Inggris “British Rule The Waves” dan prestasi yang dilakukan oleh para pendahulu kita dengan menewaskan Brigjen Mallaby sudah selayaknya Jalasveva Jayamahe tidak sekedar menjadi Jargon.

Referensi
Referensi


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Kopassus Untuk Indonesia

Tuesday, 31 August 2010


Judul Buku : KOPASSUS UNTUK INDONESIA
Penulis : Iwan Santosa & E.A Natanegara
Penerbit : Red & White Publishing House
Tebal : 343 Halaman
Tahun Terbit : 2009


Kopassus merupakan salah satu unit dari TNI yang terkenal di diantara tentara – tentara di dunia karena keberhasilannya dalam membebaskan pesawat DC 9 dalam 5 menit dari pembajakan pesawat yang marak pada dekade 80-an di bandara Don Muang, Thailand. Berkat keberhasilan operasi anti teror tersebut maka dibentuklah Detasemen 81 Anti Teror pada 30 Juni 1982.

Didalam buku ini tidak hanya diceritakan mengenai operasi – operasi Kopassus saja tetapi didalam buku ini juga diceritakan mengenai sejarah singkat berupa timeline dari Regiment Speciale Troepen di tahun 1946 hingga terbentuknya Kopassus. Pola latihan kopasus sangat ekstrim membuat para anggota Kopassus memiliki ketahanan fisik dan mental yang melampaui manusia pada umumnya bahkan pola latihan menembak kopassus yang menggunakan peluru sungguhan (bukan peluru karet) dikritik oleh para pelatih pasukan khusus dari negara lain karena dianggap terlalu berutal.

Banyak sekali operasi – operasi kopassus di daerah daerah konflik di Indonesia. Contohnya konflik di Aceh. Seorang perwira Kopassus yang ditugaskan dalam operasi Intelejen Kopassus di Aceh berhasil menyelinap hingga ke markas GAM walaupun seorang perwira kopassus tersebut harus menyamar menjadi seorang pedagang durian selama berbulan-bulan.

Adalagi kisah seorang perwira Kopassus yang ditugaskan di daerah konflik SARA di Ambon. Perwira kopassus tersebut menghadapi liarnya para warga – warga yang memegang senjata dan menembaknya secara membabi buta, selain itu perwira itu harus juga dikejar-kejar oleh warga di tanah kelahirannya sendiri karena berusaha melerai konflik SARA di daerah tersebut.

Dalam bencana alam, kopassus juga ditugaskan secepat kilat dalam menangani daerah-daerah yang terkena dampak serius, misalkan daerah Meulaboh di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang terkena dampak paling parah akibat terjangan tsunami, gempa bumi di Yogyakarta, dan banjir yang melanda Ibukota.

Dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dipahami menjadikan buku “Kopassus Untuk Indoesia ini layak untuk dibaca.


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Tragedi Woyla

Wednesday, 21 July 2010


Pembajakan Pesawat Garuda DC 9, Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia

Pada tanggal 28 Maret 1981, lima orang teroris, yaitu Zulfikar, Mahrizal, Wemdy, Abdullah Mulyono, Ali Yusuf dan Ma'ruf yang mengaku sebagai kelompok Islam ekstermis “Komando Jihad” telah melakukan pembajakan di dalam pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla yang berisi 48 orang penumpang. Pesawat tersebut terbang dari Jakarta pada pukul 08.00 WIB, lalu transit ke Palembang, dan akan terbang lagi ke Medan dengan perkiraan waktu tiba, yaitu 10.55 WIB.

Pembajakan mulai terjadi ketika pesawat yang dikemudikan oleh Kapten Herman Rante baru saja terbang dari Pelud Sipil Talang Betutu, Palembang setelah transit untuk menuju Bandara Polonia, Medan. Setelah lepas landas, dua penumpang bangkit dari tempat duduk mereka, satu menuju ke kokpit dan menodongkan senjata. Satu lagi berdiri di jalan antara tempat-duduk pesawat. Pada pukul 10.10, para pembajak yang memegang senjata api berhasil menguasai pesawat tersebut. Pembajak di kokpit memerintahkan pilot untuk terbang ke Kolombo, Sri Lanka, tetapi pilot berkata bahwa pesawat tersebut tidak memiliki cukup bahan bakar pesawat, dan kemudian pesawat dialihkan ke Penang, Malaysia, untuk pengisian bahan bakar dan terbang lagi ke Thailand atas paksaan teroris dan penerimaaan pemerintah Thailand untuk mengizinkan pesawat tersebut mendarat di wilayahnya.
Para pembajak menuntut agar para rekannya yang ditahan pasca Peristiwa Cicendo di Bandung, Jawa Barat, segera dibebaskan. Dalam Peristiwa Cicendo, 14 anggota Komando Jihad membunuh empat anggota polisi di Kosekta 65 pada 11 Maret 1981 dini hari. Setelah peristiwa itu, sejumlah anggota Komando Jihad ditahan dan terancam hukuman mati. Selain itu, para pembajak juga menuntut uang sebesar US$ 1,5 Juta dan sebuah pesawat untuk pembebasan tahanan serta untuk terbang ke suatu tempat yang dirahasiakan. Mereka juga mengancam bahwa pesawat tersebut telah dipasangi bom dan tidak segan-segan untuk meledakkannya.
Berita pertama pembajakan tersebut mulai diketahui pada pukul 10.18, saat Kapten Pilot A. Sapari dengan pesawat F28 Garuda yang baru tinggal landas dari Bandara Simpang Tiga, Pekan Baru mendengar panggilan radio dari Garuda Indonesia 206 (Woyla) yang berbunyi “..being hijacked, being hijacked”. Berita tersebut langsung diteruskan ke Jakarta, berita yang mengejutkan petugas keamanan karena pada saat bersamaan juga diadakan latihan gabungan yang melibatkan semua unsur pasukan tempur di Timor-Timur hingga Halmahera. Berita tersebut diterima Wakil Panglima ABRI Laksamana Sudomo yang masih berada di Jakarta. Sudomo langsung meneruskan berita tersebut kepada Kepala Pusat Intelijen Strategis Benny Moerdani pun langsung menghubungi Asrama Kopasandha (Sekarang Kopassus) dan diterima oleh Asisten Operasi Kopasandha Letkol Infanteri Sintong Panjaitan. Benny memberitahu tentang dibajaknya pesawat Garuda DC-9 yang masih belum jelas berapa pembajaknya, apa motif pembajakannya dan kemana tujuan pesawat tersebut.
Sementara itu, di Jakarta pada pukul 19.25, Kepala Bakin (sekarang BIN), Jenderal Yoga Sugomo berangkat ke Bangkok. Ia mendapat berita bahwa pembajak pesawat tersebut berjumlah lima orang. Mereka semua bisa berbicara Indonesia, memegang senjata api, granat, dan mungkin dinamit. Mereka menuntut dibebaskannya tahanan atas kasus peristiwa Cicendo yang dilakukan oleh komplotan Warman beserta Komando Jihad. Para tahanan diminta untuk diterbangkan keluar Indonesia dan tempatnya dirahasiakan serta dengan diberikan uang sebesar 1, 5 juta dolar AS. Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, maka lima orang pembajak tersebut akan meledakan pesawat beserta seluruh penumpangnya.
Sabtu, sekitar jam sepuluh malam, Kolonel Teddy Rusdi, Benny Moerdani dan Sudomo berhasil menemui Presiden Soeharto di Cendana. Mereka membicarakan langkah apa yang harus diambil untuk mengatasi masalah pembajakan tersebut. Kesimpulannya, pembajakan tersebut akan diselesaikan dengan melancarkan sebuah operasi militer dimana penanggung jawab operasi ini adalah Benny Moerdani.
Pada minggu malam, pemerintah Thailand memberikan izin bahwa pasukan anti terror Indonesia boleh mendarat Indonesia. Meskipun sebelumnya pemerintah Thailand bersikeras agar pasukan mereka yang mengatasi pembajakan tersebut. Para pasukan yang ditugaskan untuk melakukan operasi militer yang bertujuan membebaskan pesawat yang dibajak, terbang ke Thailand dengan menggunakan pesawat DC-10 dengan berkamuflase menjadi pesawat yang baru terbang dari Eropa. Benny memerintahkan agar serangan dimulai sebelum fajar. Ia juga meminta agar petugas Garuda di Don Muang menyiapkan 17 peti mati.
Pada pukul 02.45, serangan dimulai. Pintu didobrak oleh pasukan Kopasandha dan mereka pun langsung melepaskan tembakan ke arah para pembajak pesawat tersebut. Dengan serangan mendadak tersebut, akhirnya pesawat berhasil dikuasai oleh Kopasandha pada Selasa dini hari tanggal 31 Maret 1981.
Dalam operasi militer yang singkat tersebut, seluruh teroris berhasil ditembak. Tiga diantaranya langsung tewas dan dua sisanya terluka parah. Namun, Kapten Herman Rante, pilot pesawat DC 9 dan Achmad Kirang, anggota Kopasandha terluka parah akibat terkena tembakan para teroris. Satu hal yang cukup melegakan adalah bahwa tidak ada satu pun penumpang yang tewas.
Begitu pesawat berhasil dikuasai, Benny langsung menyambar mike dan langsung mengatakan kepada Jenderal Yoga Sugomo (Kepala BAKIN saat itu) bahwa pesawat telah berhasil dikuasai. Namun, Jenderal Yoga merasa kaget karena ia tidak mengira bahwa pesawat akan berhasil dikuasai secepat itu.
Pesawat Garuda DC 10 Sumatera yang mengangkut para pasukan anti teror Kopasandha meninggalkan bandara Don Muang, Thailand pada hari Selasa pukul 05.00 pagi. Dua pembajak yang luka parah dan sempat mengalami perawatan tim medis dari Kopasandha tidak berhasil diselamatkan dan akhirnya meninggal dunia. Kemudian kelima jenazah teroris tersebut ikut diterbangkan ke Jakarta pada pagi hari itu juga. Sementara itu, Achmad Kirang meninggal dunia di rumah sakit Bhumibhol, Bangkok. Lalu, enam hari setelah operasi pembebasan pesawat Woyla tersebut, Kapten Herman Rante juga meninggal dunia di Bangkok. Sekitar pukul 08.00 pagi, pesawat Garuda DC 10 Sumatera akhirnya tiba di Jakarta. Keberhasilan pasukan Kopasandha dalam mengatasi pembajakan tersebut sudah tersiar lewat siaran radio di Indonesia. Pasukan Kopasandha yang berhasil melakukan operasi pembebasan pesawat Woyla tersebut, telah menjadi embrio pasukan anti terror Kopassus yang dikenal dengan nama Sat 81 Gultor. Menurut salah satu anggota Kopasandha yang ikut dalam operasi pembebasan tersebut, kunci keberhasilan dari operasi tersebut adalah serangan dengan cara tiba-tiba. Menurutnya, negosiasi dengan para pembajak adalah nomor dua.
Itulah sepenggalan kisah pembajakan dan operasi pembebasan pesawat Garuda DC 9. Pembajakan tersebut merupakan yang pertama terjadi di Indonesia dan para pasukan anti terror Kopasandha boleh berbangga diri karena operasi pembebasan tersebut berhasil dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan sangat cepat sekali, yakni hanya dalam hitungan menit.
Sementara itu, Imran Muhammad bin Zein yang dianggap sebagai otak dari peristiwa Cicendo dan pembajakan tersebut akhirnya diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan dijatuhi hukuman mati dengan tuntutan atas tindakan subversinya.

Sumber:
Pour, Julius. Benny: Tragedi seorang loyalis. Jakarta: Kata Hasta Pustaka. 2007
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1985/12/07/LN/mbm.19851207.LN37774.id.html


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Herman Willem Daendels

Sunday, 4 July 2010

Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang Revolusioner dan Kejam
Herman Willem Daendels lahir di Hattem, 21 Oktober 1762 sebagai anak kedelapan dari 13 bersaudara. Ia merupakan Gubernur-Jendral Hindia-Belanda yang ke-36. Ayahnya bernama Burchard Johan Daendels dan Josina Christina Tulleken adalah ibunya. Daendels adalah gubernur jenderal yang memerintahkan pembangunan jalan raya pos. Daendels merupakan orang yang kejam hingga dikenal dengan sebutan jenderal Guntur, Mas Guntur, Marsekal Besi, bahkan di Jawa Barat ia dikenal dengan sebutan Mas Galak. Di tangannya, ribuan orang Indonesia menemui ajalnya. Karena pembangunan jalan raya pos, namanya jadi mendunia.

Daendels ditunjuk menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1808 oleh Raja Belanda, Louis Napoleon yang merupakan adik dari Kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte yang saat itu menduduki Belanda. Daendels mendarat di Anyer pada tanggal 5 Januari 1808 dan menggantikan Gubernur Jendral Albertus Wiese. Daendels diserahi tugas terutama untuk melindungi pulau Jawa dari serangan tentara Inggris. Jawa adalah satu-satunya daerah koloni Belanda-Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris setelah Isle de France dan Mauritius pada tahun 1807. Daendels pergi menuju Batavia dari Anyer dengan menempuh waktu selama empat hari perjalanan dengan naik kereta. Dia juga yang memindahkan pusat pemerintahan Hindia Belanda dari Batavia (sekitar kawasan Kota Tua sekarang) ke Weltevreden (Lapangan Banteng dan sekitarnya). Berbeda dengan apa yang dipercaya orang selama ini, Daendels selama masa pemerintahannya memang memerintahkan pembangunan jalan di Jawa tetapi tidak dilakukan dari Anyer hingga Panarukan. Jalan antara Anyer dan Batavia sudah ada ketika Daendels tiba. Oleh karena itu menurut het Plakaatboek van Nederlandsch Indie jilid 14, Daendels mulai membangun jalan dari Buitenzorg menuju Cisarua dan seterusnya sampai ke Sumedang. Pembangunan dimulai bulan Mei 1808. Selebihnya, untuk jalan sepanjang 850 km ia perintahkan kepada aparat pemerintahan dalam negeri Jawa untuk mengerahkan pekerja rodi.
Daendels adalah penganut cita-cita Revolusi Perancis: “Kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan”. Tapi, sebagai seorang penguasa yang revolusioner, ia menjadi diktator yang bengis. Perbudakan bukannya dilarang tapi dibiarkan jalan terus. Karena menimbulkan penderitaan dan kebencian rakyat Indonesia, tingkah Daendels telah menyebabkan banyak pengaduan kepada Louis Napoleon hingga pada tahun 1811 ia dipanggil pulang oleh J.W. Janssens. Berakhirlah karirnya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Setelah jatuhnya Napoleon akibat kalah dalam pertempuran di Waterloo, Belgia, Daendels mengabdi pada Raja Willem I yang tak begitu percaya pada patriot lama itu dan mengirim Daendels sebagai Gubernur ke Gold Coast di Afrika. Di sana ia tersaing, kesepian dan meninggal pada tahun 1818.
Konon orang Belanda terkenal matig (sedang-sedang saja), tidak revolusioner, sehingga gejolak revolusi abad ke-18 sampai abad ke-19 tidak banyak menarik perhatian para sejarawannya. Karena itu sampai tahun 1991, di 4 kota terbesar Belanda hanya ada satu jalan umum yang menggunakan namanya.
Dalam Hikayat Jakarta, penulis Amerika Willard A Hanna melukiskan sosok Daendels. Para petani yang mengenalnya menganggapnya sebagai momok. Para penguasa tradisional menganggapnya sebagai tiran. Sedang orang-orang Belanda di Batavia menganggapnya sebagai pengkhianat, orang yang diragukan dan dibeli oleh Napoleon. Orang Belanda malah lebih suka diperintah oleh Inggris katimbang Prancis. Saking setianya kepada Napoleon, ia pernah mengibarkan bendera Prancis di Batavia.
Sejarah Daendels di Jawa telah berakhir dengan ditariknya ia dari jabatannya pada 1811, atau hampir dua abad lalu. Tetapi, namanya sebagai seorang tiran terkenal hingga kini. Jalan raya yang dibuatnya juga tetap terbentang merupakan contoh hasil kekerasan hati perencananya. Jalan yang begitu panjang tersebut melintasi pegunungan-pegunungan, menerobos hutan balantara, jurang-jurang terjal, pantai yang panjang dan lembah yang membentang.

Sumber
Toer, Pramoedya Ananta. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Jakarta: Lentera Dipantara. 2005
http://id.wikipedia.org/wiki/Herman_Willem_Daendels
http://alwishahab.wordpress.com/2009/09/30/mudik-di-jalan-daendels/

Achmad Seftian, Pend. Sejarah 2008


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

MESIN PENCARI MASSA

Sunday, 20 June 2010


“Organisasi ialah referensi empiris mahasiswa menuju ke dunia perbudakan sesungguhnya”

Esensinya mahasiswa merupakan salah satu kekuatan pelopor di setiap perubahan di negeri ini. Dan mahasiswa melalui gerakan-gerakan mahasiswa telah berhasil mengambil peran yang signifikan dengan terus menggelorakan energi “perlawanan” dan bersikap kritis.
Pergerakan mahasiswa sejatinya harus melihat konteks kerakyatan dan tidak selalu terbelit dengan persoalan akademis yang membuat mahasiswa luluh dan melunturkan nilai-nilai kritisnya.

Sejarah telah mencatat bahwa pergerakan mahasiswa terukir menjadi beberapa angkatan dari segelintir tragedi yang telah terekam oleh zaman. Berangkat dari masa pemerintahan hindia-belanda sampai terjadinya sebuah reformasi di tahun 1998. Keadaan ini telah menandakan bahwa mahasiswa tetap pada garis pergerakan dimana pola pergerakan di setiap tempo mengikuti zaman dengan bentuk ketertindasan yang beragam.
Oleh karena itu pergerakan mahasiswa terlahir dari kampus ke kampus dan tidak hanya bergerak dari satu kampus yang hanya membicarakan lokalitas permasalahan tertentu . Pergerakan itu kini dileburkan dalam wadah persatuan yang disebut organisasi. Organisasi ini terdiri dari berbagai jenis gagasan, ada organisasi mahasiswa yang bernafaskan persatuan agama, adapula organisasi yang berdasarkan kesamaan pandangan atau ideologi. Ini semua adalah bukti bahwa pada hakikatnya mahasiswa berusaha mengeksperimentasikan gagasan lewat perjuangan kemahasiswaan.
Pasca kemerdekaan Indonesia telah banyak bermunculan organisasi kemahasiswaan, salah satunya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berdiri dua tahun setelah Indonesia mengumumkan kemerdekaannya. HMI ini bertujuan mempertahankan kemerdekaan dengan konteks masyarakat Islam pada saat itu terpecah belah dalam berbagai aliran keagamaan dan politik. Dan tidak dapat dipungkiri pula bahwa terbentuknya HMI ini merupakan underbouw dari partai masyumi kala itu. Adapula Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang sangat kental dengan Nahdatul Ulama (NU), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Forum Kota (Forkot),dan masih banyak lagi organisasi ekstrakampus yang berdiri baik pasca kemerdekaan maupun pra reformasi 1998.
Produk organisasi gerakan mahasiswa antar kampus banyak sekali lahir dan tumbuh setelah masa reformasi. Tidak menutup mata dengan kehidupannya yang telah memasuki Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini. Sedikit beromantisme, kampus eks IKIP ini sempat menjadi pelopor organisasi pergerakan mahasiswa. Kampus ini sempat mengklaim bahwasannya mereka turut andil pula dalam proses terjadinya reformasi. Salah satu alumni yang sempat mengenyam masa reformasi ini berkata, bahwa dulu pernah terjadi pembentukkan persatuan senat mahasiswa se-jakarta di kampus ini yang nantinya mengambil bagian dalam aksi penurunan rezim otoriter Soeharto.
Kini melihat keberadaan UNJ yang notabene menjadi lembaga pencipta guru, menempatkan sebuah posisi pada fungsi dan tujuan organisasi ekstra kampus di UNJ. Mahasiswa yang nantinya akan dididik menjadi calon guru ini, mempunyai berbagai kesibukannya masing-masing. Dari mulai tugas perkuliahan sampai pada kegiatan organisasi di dalam kampus. Menatap dari hal ini, hubungan antara mahasiswa dengan organisasi ekstra kampus ini menjadi sebuah paradoks yang besar tehadap peradaban mahasiswa yang telah memasuki era dehumanisasi ini. Dalih-dalih ingin membawa persatuan dan selalu mengproklamirkan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan, organisasi mahasiswa ekstrakampus yang terdapat di UNJ tidak lain hanyalah menjadi mesin perekrut massa untuk kepentingannya dalam menghegemoni perebutan eksistensi organisasi belaka. Mahasiswa yang tabu akan esensi pergerakan organisasinya masing-masing dibuat bingung dalam keberadaannya di organisasi tersebut.
Kegiatan seminar, pelatihan kepemimpinan dan ceremonial acara pengkaderan menjadi agenda rutin organisasi ekstra kampus di UNJ dalam rangka menarik minat dari mahasiswa UNJ tersebut. Mengangkat isu media untuk dijadikan sebuah wacana pergerakan adalah propaganda untuk membuat ketertarikan pada organisasi tersebut dalam meraih simpati heroik mahasiswa. UNJ yang kini berbenah diri dalam prosesnya menjadi Badan Layanan Umum (BLU) yang mana esensi BLU turut andil membuat mahasiswa dan calon mahasiswa UNJ menjadi korban komersialisasi ini tidak pernah terangkat menjadi wacana lokalitas pergerakannya. Berbeda seperti organisasi ekstrakampus di luar UNJ yang sering tanggap terhadap permasalahan mahasiswa dan masyarakat baik berupa isu lokal maupun isu nasional.
Romantisme akan keberhasilan salah satu mantan anggotanya dalam menduduki kancah perpolitikan negeri ini ,menjadi motivasi tersendiri bagi para anggota dan calon anggota dalam melihat dan mengukur sebuah organisasi yang layak menjadi kendaraan berorganisasi. Hal inilah yang menjadi kacamata dalam melihat dinamika organisasi ekstra kampus. Mahasiswa hanyalah menjadi tumbal dari mesin-mesin yang kelak akan menjadi penindas baru dipercaturan kekuasaan Indonesia. Mimpi akan mencapai kesuksesan inilah yang selalu menghantui kaum intelektual dalam memilih perahu yang akan membuat mereka berlabuh. Organisasi tak hayal hanyalah menjadi sebuah referensi empiris guna mahasiswa melanjutkan jenjang ke dunia perbudakan sesungguhnya. Mahasiswa yang tidak mempunyai referensi kerja sangat mengandalkan pengalaman-pengalamannya dalam berorganisasi. Inilah dinamika manusia yang berujung pada perebutan faktor produksinya.

Satrio, Pend. Sejarah 2009


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Il Principle (Sang Pangeran)

Wednesday, 16 June 2010

Judul Buku : Il Principle (Sang Pangeran)

Penulis : Niccolo Machiavelli

Penerbit : Narasi

Tebal : 184 halaman

Tahun Terbit : 2008


“Manusia tidak segan-segan membela dia yang mereka takuti daripada mereka cintai karena rasa cinta diikat dengan rantai kewajiban, karena manusia pada dasarnya egois, maka pada saat mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, rantai tersebut akan putus; namun rasa takut diperthankan oleh hukman-hukuman yang menakutkan yang tidak pernah gagal.” (Niccolo Machiavelli)

Machiavelli menulis buku Il Principle pada tahun 1513 dan ia persembahkan kepada keluarga Medici yang saat itu berkuasa atas Florence. Buku ini banyak bercerita tentang bagaimana cara yang seharusnya dilakukan oleh seorang pangeran dalam menggapai kekuasaan dan mempertahankannya. Namun, buku ini menyajikan cara-cara kotor yang harus dilakukan oleh sang pangeran, seperti membunuh, menipu, bersikap kejam dan licik.
Karena buku ini, nama Machiavelli sering diidentikan dengan lambang kelicikan dan kepalsuan. Bahkan, orang yang terlihat begitu ambisius dan menghalalkan segala cara dalam mencapai keinginannya, sering dianggap sebagai Machiavellis. Begitu hebatnya buku ini hingga bisa melahirkan beberapa diktator, seperti Napoleon, Hitler, Mussolini, Lenin dan Stalin. Bahkan, Napoleon selalu menaruh buku ini di bawah bantalnya sebelum tidur.
Buku ini cukup menarik untuk dibaca. Namun, bukan berarti mengajarkan kita untuk melegalkan segala cara dalam mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Machiavelli hanya berupaya berterus terang kepada keluarga Medici lewat buku ini. Dan kita akan menemukan antara yang salah dan benar di dalam buku ini.

Achmad Seftian, Pend. Sejarah 2008


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......