Herman Willem Daendels

Sunday, 4 July 2010

Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang Revolusioner dan Kejam
Herman Willem Daendels lahir di Hattem, 21 Oktober 1762 sebagai anak kedelapan dari 13 bersaudara. Ia merupakan Gubernur-Jendral Hindia-Belanda yang ke-36. Ayahnya bernama Burchard Johan Daendels dan Josina Christina Tulleken adalah ibunya. Daendels adalah gubernur jenderal yang memerintahkan pembangunan jalan raya pos. Daendels merupakan orang yang kejam hingga dikenal dengan sebutan jenderal Guntur, Mas Guntur, Marsekal Besi, bahkan di Jawa Barat ia dikenal dengan sebutan Mas Galak. Di tangannya, ribuan orang Indonesia menemui ajalnya. Karena pembangunan jalan raya pos, namanya jadi mendunia.

Daendels ditunjuk menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1808 oleh Raja Belanda, Louis Napoleon yang merupakan adik dari Kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte yang saat itu menduduki Belanda. Daendels mendarat di Anyer pada tanggal 5 Januari 1808 dan menggantikan Gubernur Jendral Albertus Wiese. Daendels diserahi tugas terutama untuk melindungi pulau Jawa dari serangan tentara Inggris. Jawa adalah satu-satunya daerah koloni Belanda-Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris setelah Isle de France dan Mauritius pada tahun 1807. Daendels pergi menuju Batavia dari Anyer dengan menempuh waktu selama empat hari perjalanan dengan naik kereta. Dia juga yang memindahkan pusat pemerintahan Hindia Belanda dari Batavia (sekitar kawasan Kota Tua sekarang) ke Weltevreden (Lapangan Banteng dan sekitarnya). Berbeda dengan apa yang dipercaya orang selama ini, Daendels selama masa pemerintahannya memang memerintahkan pembangunan jalan di Jawa tetapi tidak dilakukan dari Anyer hingga Panarukan. Jalan antara Anyer dan Batavia sudah ada ketika Daendels tiba. Oleh karena itu menurut het Plakaatboek van Nederlandsch Indie jilid 14, Daendels mulai membangun jalan dari Buitenzorg menuju Cisarua dan seterusnya sampai ke Sumedang. Pembangunan dimulai bulan Mei 1808. Selebihnya, untuk jalan sepanjang 850 km ia perintahkan kepada aparat pemerintahan dalam negeri Jawa untuk mengerahkan pekerja rodi.
Daendels adalah penganut cita-cita Revolusi Perancis: “Kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan”. Tapi, sebagai seorang penguasa yang revolusioner, ia menjadi diktator yang bengis. Perbudakan bukannya dilarang tapi dibiarkan jalan terus. Karena menimbulkan penderitaan dan kebencian rakyat Indonesia, tingkah Daendels telah menyebabkan banyak pengaduan kepada Louis Napoleon hingga pada tahun 1811 ia dipanggil pulang oleh J.W. Janssens. Berakhirlah karirnya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Setelah jatuhnya Napoleon akibat kalah dalam pertempuran di Waterloo, Belgia, Daendels mengabdi pada Raja Willem I yang tak begitu percaya pada patriot lama itu dan mengirim Daendels sebagai Gubernur ke Gold Coast di Afrika. Di sana ia tersaing, kesepian dan meninggal pada tahun 1818.
Konon orang Belanda terkenal matig (sedang-sedang saja), tidak revolusioner, sehingga gejolak revolusi abad ke-18 sampai abad ke-19 tidak banyak menarik perhatian para sejarawannya. Karena itu sampai tahun 1991, di 4 kota terbesar Belanda hanya ada satu jalan umum yang menggunakan namanya.
Dalam Hikayat Jakarta, penulis Amerika Willard A Hanna melukiskan sosok Daendels. Para petani yang mengenalnya menganggapnya sebagai momok. Para penguasa tradisional menganggapnya sebagai tiran. Sedang orang-orang Belanda di Batavia menganggapnya sebagai pengkhianat, orang yang diragukan dan dibeli oleh Napoleon. Orang Belanda malah lebih suka diperintah oleh Inggris katimbang Prancis. Saking setianya kepada Napoleon, ia pernah mengibarkan bendera Prancis di Batavia.
Sejarah Daendels di Jawa telah berakhir dengan ditariknya ia dari jabatannya pada 1811, atau hampir dua abad lalu. Tetapi, namanya sebagai seorang tiran terkenal hingga kini. Jalan raya yang dibuatnya juga tetap terbentang merupakan contoh hasil kekerasan hati perencananya. Jalan yang begitu panjang tersebut melintasi pegunungan-pegunungan, menerobos hutan balantara, jurang-jurang terjal, pantai yang panjang dan lembah yang membentang.

Sumber
Toer, Pramoedya Ananta. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Jakarta: Lentera Dipantara. 2005
http://id.wikipedia.org/wiki/Herman_Willem_Daendels
http://alwishahab.wordpress.com/2009/09/30/mudik-di-jalan-daendels/

Achmad Seftian, Pend. Sejarah 2008


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

MESIN PENCARI MASSA

Sunday, 20 June 2010


“Organisasi ialah referensi empiris mahasiswa menuju ke dunia perbudakan sesungguhnya”

Esensinya mahasiswa merupakan salah satu kekuatan pelopor di setiap perubahan di negeri ini. Dan mahasiswa melalui gerakan-gerakan mahasiswa telah berhasil mengambil peran yang signifikan dengan terus menggelorakan energi “perlawanan” dan bersikap kritis.
Pergerakan mahasiswa sejatinya harus melihat konteks kerakyatan dan tidak selalu terbelit dengan persoalan akademis yang membuat mahasiswa luluh dan melunturkan nilai-nilai kritisnya.

Sejarah telah mencatat bahwa pergerakan mahasiswa terukir menjadi beberapa angkatan dari segelintir tragedi yang telah terekam oleh zaman. Berangkat dari masa pemerintahan hindia-belanda sampai terjadinya sebuah reformasi di tahun 1998. Keadaan ini telah menandakan bahwa mahasiswa tetap pada garis pergerakan dimana pola pergerakan di setiap tempo mengikuti zaman dengan bentuk ketertindasan yang beragam.
Oleh karena itu pergerakan mahasiswa terlahir dari kampus ke kampus dan tidak hanya bergerak dari satu kampus yang hanya membicarakan lokalitas permasalahan tertentu . Pergerakan itu kini dileburkan dalam wadah persatuan yang disebut organisasi. Organisasi ini terdiri dari berbagai jenis gagasan, ada organisasi mahasiswa yang bernafaskan persatuan agama, adapula organisasi yang berdasarkan kesamaan pandangan atau ideologi. Ini semua adalah bukti bahwa pada hakikatnya mahasiswa berusaha mengeksperimentasikan gagasan lewat perjuangan kemahasiswaan.
Pasca kemerdekaan Indonesia telah banyak bermunculan organisasi kemahasiswaan, salah satunya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berdiri dua tahun setelah Indonesia mengumumkan kemerdekaannya. HMI ini bertujuan mempertahankan kemerdekaan dengan konteks masyarakat Islam pada saat itu terpecah belah dalam berbagai aliran keagamaan dan politik. Dan tidak dapat dipungkiri pula bahwa terbentuknya HMI ini merupakan underbouw dari partai masyumi kala itu. Adapula Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang sangat kental dengan Nahdatul Ulama (NU), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Forum Kota (Forkot),dan masih banyak lagi organisasi ekstrakampus yang berdiri baik pasca kemerdekaan maupun pra reformasi 1998.
Produk organisasi gerakan mahasiswa antar kampus banyak sekali lahir dan tumbuh setelah masa reformasi. Tidak menutup mata dengan kehidupannya yang telah memasuki Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini. Sedikit beromantisme, kampus eks IKIP ini sempat menjadi pelopor organisasi pergerakan mahasiswa. Kampus ini sempat mengklaim bahwasannya mereka turut andil pula dalam proses terjadinya reformasi. Salah satu alumni yang sempat mengenyam masa reformasi ini berkata, bahwa dulu pernah terjadi pembentukkan persatuan senat mahasiswa se-jakarta di kampus ini yang nantinya mengambil bagian dalam aksi penurunan rezim otoriter Soeharto.
Kini melihat keberadaan UNJ yang notabene menjadi lembaga pencipta guru, menempatkan sebuah posisi pada fungsi dan tujuan organisasi ekstra kampus di UNJ. Mahasiswa yang nantinya akan dididik menjadi calon guru ini, mempunyai berbagai kesibukannya masing-masing. Dari mulai tugas perkuliahan sampai pada kegiatan organisasi di dalam kampus. Menatap dari hal ini, hubungan antara mahasiswa dengan organisasi ekstra kampus ini menjadi sebuah paradoks yang besar tehadap peradaban mahasiswa yang telah memasuki era dehumanisasi ini. Dalih-dalih ingin membawa persatuan dan selalu mengproklamirkan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan, organisasi mahasiswa ekstrakampus yang terdapat di UNJ tidak lain hanyalah menjadi mesin perekrut massa untuk kepentingannya dalam menghegemoni perebutan eksistensi organisasi belaka. Mahasiswa yang tabu akan esensi pergerakan organisasinya masing-masing dibuat bingung dalam keberadaannya di organisasi tersebut.
Kegiatan seminar, pelatihan kepemimpinan dan ceremonial acara pengkaderan menjadi agenda rutin organisasi ekstra kampus di UNJ dalam rangka menarik minat dari mahasiswa UNJ tersebut. Mengangkat isu media untuk dijadikan sebuah wacana pergerakan adalah propaganda untuk membuat ketertarikan pada organisasi tersebut dalam meraih simpati heroik mahasiswa. UNJ yang kini berbenah diri dalam prosesnya menjadi Badan Layanan Umum (BLU) yang mana esensi BLU turut andil membuat mahasiswa dan calon mahasiswa UNJ menjadi korban komersialisasi ini tidak pernah terangkat menjadi wacana lokalitas pergerakannya. Berbeda seperti organisasi ekstrakampus di luar UNJ yang sering tanggap terhadap permasalahan mahasiswa dan masyarakat baik berupa isu lokal maupun isu nasional.
Romantisme akan keberhasilan salah satu mantan anggotanya dalam menduduki kancah perpolitikan negeri ini ,menjadi motivasi tersendiri bagi para anggota dan calon anggota dalam melihat dan mengukur sebuah organisasi yang layak menjadi kendaraan berorganisasi. Hal inilah yang menjadi kacamata dalam melihat dinamika organisasi ekstra kampus. Mahasiswa hanyalah menjadi tumbal dari mesin-mesin yang kelak akan menjadi penindas baru dipercaturan kekuasaan Indonesia. Mimpi akan mencapai kesuksesan inilah yang selalu menghantui kaum intelektual dalam memilih perahu yang akan membuat mereka berlabuh. Organisasi tak hayal hanyalah menjadi sebuah referensi empiris guna mahasiswa melanjutkan jenjang ke dunia perbudakan sesungguhnya. Mahasiswa yang tidak mempunyai referensi kerja sangat mengandalkan pengalaman-pengalamannya dalam berorganisasi. Inilah dinamika manusia yang berujung pada perebutan faktor produksinya.

Satrio, Pend. Sejarah 2009


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Il Principle (Sang Pangeran)

Wednesday, 16 June 2010

Judul Buku : Il Principle (Sang Pangeran)

Penulis : Niccolo Machiavelli

Penerbit : Narasi

Tebal : 184 halaman

Tahun Terbit : 2008


“Manusia tidak segan-segan membela dia yang mereka takuti daripada mereka cintai karena rasa cinta diikat dengan rantai kewajiban, karena manusia pada dasarnya egois, maka pada saat mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, rantai tersebut akan putus; namun rasa takut diperthankan oleh hukman-hukuman yang menakutkan yang tidak pernah gagal.” (Niccolo Machiavelli)

Machiavelli menulis buku Il Principle pada tahun 1513 dan ia persembahkan kepada keluarga Medici yang saat itu berkuasa atas Florence. Buku ini banyak bercerita tentang bagaimana cara yang seharusnya dilakukan oleh seorang pangeran dalam menggapai kekuasaan dan mempertahankannya. Namun, buku ini menyajikan cara-cara kotor yang harus dilakukan oleh sang pangeran, seperti membunuh, menipu, bersikap kejam dan licik.
Karena buku ini, nama Machiavelli sering diidentikan dengan lambang kelicikan dan kepalsuan. Bahkan, orang yang terlihat begitu ambisius dan menghalalkan segala cara dalam mencapai keinginannya, sering dianggap sebagai Machiavellis. Begitu hebatnya buku ini hingga bisa melahirkan beberapa diktator, seperti Napoleon, Hitler, Mussolini, Lenin dan Stalin. Bahkan, Napoleon selalu menaruh buku ini di bawah bantalnya sebelum tidur.
Buku ini cukup menarik untuk dibaca. Namun, bukan berarti mengajarkan kita untuk melegalkan segala cara dalam mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Machiavelli hanya berupaya berterus terang kepada keluarga Medici lewat buku ini. Dan kita akan menemukan antara yang salah dan benar di dalam buku ini.

Achmad Seftian, Pend. Sejarah 2008


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Soekarno dan Pancasila

Saturday, 12 June 2010


“Janganlah dikatakan saya ini pembentuk ajaran Pancasila. Saya hanya seorang penggali daripada ajaran Pancasila itu” -Soekarno-

Jika membicarakan sejarah lahirnya Pancasila, maka peran Soekarno tidak dapat dilepaskan daripadanya. Soekarno memiliki peranan besar dalam lahirnya Pancasila hingga dijadikannya Pancasila sebagai dasar negara. Meskipun ada upaya de-Soekarnoisasi yang telah dilakukan oleh pemerintah Orde Baru yang bertujuan mengecilkan jasa-jasa Soekarno. Bahkan, sejak tanggal 1 Juni 1970 Kopkamtib melarang peringatan hari lahirnya Pancasila.
Soekarno menyampaikan gagasan Pancasila pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 di gedung Volksraad (sekarang gedung Pancasila). Selain Soekarno, orang-orang yang menyampaikan gagasan mengenai dasar negara adalah M. Yamin yang menyampaikan Lima Asas sebagai dasar bagi Indonesia Merdeka, yaitu Peri-Kebangsaan, Peri-Kemanusiaan, Peri-Ketuhanan, Peri Kerakyatan dan Kesejahteraan Rakyat.. Namun, ketika masa Orde Baru, sejarah lahirnya Pancasila menjadi kontroversial seiring dengan kebijakan pemerintah sebagai upaya de-Soekarnoisasi.

Nugroho Notosusanto dalam bukunya Naskah Proklamasi jang Otentik dan Rumusan Pancasila jang Otentik, menuliskan bahwa ada empat rumusan Pancasila, yaitu yang disampaikan M. Yamin pada tanggal 29 Mei 1945, Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945, hasil rumusan Tim Sembilan yang dikenal dengan nama Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945, dan seperti yang tercantum dalam UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945. Nugroho menyimpulkan bahwa rumusan Pancasila yang otentik adalah rumusan 18 Agustus 1945 karena Pancasila yang tercantum dalam Pembukaan UUD ’45 dilahirkan secara sah.
Nugroho juga mengatakan bahwa M. Yamin yang pertama kali berpidato tentng Pancasila. Namun, pendapat yang disampaikan oleh Nugroho Notosusanto tersebut sangat berlainan dengan keterangan dari AB Kusuma. AB Kusuma mengatakan bahwa bukan M. Yamin yang pertama kali berpidato menenai Pancasila, namun Soekarno lah yang pertama kali. Sedangkan M. Yamin sendiri mengakui bahwa Soekarno adalah penggali Pancasila. Selain itu, Mohammad Hatta juga mengakui bahwa Soekarno yang pertama kali berpidato tentang Pancasila.
Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulannya bahwa Soekarno adalah penggali Pancasila. Meskipun M. Yamin juga berbicara mengeni dasar negara, tetapi Soekarno lah orang yang secara eksplisit menyampaikan gagasan Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945. Lewat pembicaraan yang panjang oleh para tokoh bangsa Indonesia, akhirnya Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus 1945 yang tercantum dalam Pembukaan UUD ’45. Hal yang perlu diingat adalah bahwa Pancasila yang kita kenal sekarang ini berbeda rumusan dan urutannya dengan konsep Pancasila yang disampaikan Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Namun, rumusan Pancasila yang sekarang tetaplah hasil gagasan Soekarno dan peranan serta jasanya tetap ada. Peranan Soekarno perihal Pancasila dapat dilihat dari beberapa peristiwa yang terkait, diantaranya ialah ketika ia menyampaikannya pada tanggal 1 Juni 1945, menjadi ketua panitia sembilan pada tanggal 22 Juni 1945 yang menghasilkan Piagam Jakarta hingga ditetapkannya Pancasila sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus 1945.
Soal peringatan hari lahirnya Pancasila, kita tidak hanya menghargai Soekarno seorang saja. Namun, kita juga harus menghargai para founding fathers yang telah merumuskan gagasan Pancasila yang telah disampaikan oleh Soekarno hingga menjadi Pancasila yang kita kenal sekarang ini. Selain itu, yang harus kita renungkan adalah bagaimana kita memahami dengan benar Pancasila sebagai ideologi bangsa dan dasar negara serta kemudian mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Achmad Seftian, Pend. Sejarah 2008


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Ketika Buruh Menjadi Sebuah Pengantar

Tuesday, 8 June 2010


“Kehidupan buruh tak pernah lepas dari penderitaan yang dibuat dan direncanakan oleh para penindas.”
Buruh adalah penamaan yang diberikan untuk sekelompok kaum pekerja, kuli, petani, pegawai pemerintah, buruh kereta api, perkebunan, industri jasa dan lain-lain.
Begitulah pemakaian istilah buruh atau yang biasa didefinisikan kaum pekerja,saat Indonesia mengalami peristiwa Kolonial pada masa dinasti Belanda. Konotasi buruh mulai terspesialisasi saat negeri ini berada di bawah kepemimpinan Orde Baru, dimana hanya para pekerja pabrik atau pekerja upah harian yang disebut buruh. Hari ini, pemakaian istilah buruh tetap sama dengan istilah buruh pada Orde Baru . Tapi, apapun itu mengenai istilah buruh tetaplah mereka ialah kaum pekerja yang diperkerjakan oleh atasan atau majikan.
Sengketa lahan, minimnya lapangan pekerjaan dan urbanisasi merupakan dampak dari globalisasi yang sekarang terjadi. Indonesia yang belum sepenuhnya tepat disebut sebagai konsep Negara bangsa menjadi negeri ini sebuah pelabuhan imperialisme lama dan imperialisme baru. Ditemukannya alat atau mesin produksi pengganti tenaga manusia membawa dampak sosial ekonomi bagi kaum pekerja dimana mereka yang dulu menggantungkan nasib pada sebuah industri perusahaan kini tergeser lewat mesin produksi yang mampu mewakilkan tenaga manusia dalam membuat suatu hasil produksi barang.

Kelas sosial terbentuk dimana ketika sebuah peradaban membuat tolak ukur kehidupan dengan membedakan jenis kasta pekerjaan dalam dinamika kehidupannya. Perbedaan itu nampak pada kaum pekerja dan para Majikan atau pemilik modal. Kaum pekerjapun terbagi menjadi golongan-golongan yang mengerucut menjadi jurang kehinaan dalam bersosial. Kaum pekerja menengah dimana terdapat mandor/ residen, pegawai pemerintah, guru, dosen, dan para buruh tetap. Kaum pekerja bawah dimana terdapat pembantu, kuli bangunan ,dan kaum pekerja yang di upah harian atau kurang lebih yang menggantungkan nasib pada hari-harinya bekerja. Disinilah terbentuk sebuah pola penindasan antar kelas, entah apa yang membentuk itu.
Dilihat secara histories masalah-masalah sosial atau masalah yang timbul akibat kelas sosial serasa membatasi ruang sosial kaum pekerja dan kaum yang dipekerjakan. Ini pun membawa dampak pada kancah perpolitikan. Globalisasi yang katanya dapat menyatukan ras,golongan dan kelas sosial di dunia ternyata terbalik, globalisasi membawa dampak pada pemusnahan kelas-kelas miskin, maksudnya globalisasi membentuk pola yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.
Pada era dinasti Belanda dan Indonesia yang saat itu sudah memasuki tahap pembentukkan konsep sebuah bangsa terdapat sebuah “politik etis”. Kegiatan balas budi yang diberikan terhadap koloni. Rakyat Indonesia pada saat itu diberi sedikit ruang untuk berpolitik dan berpendidikan. Sesungguhnya jauh sebelum politk etis kondisi indonesia pun tak jauh dengan adanya politik etis, ini berlandaskan pada sebuah makna yang mana penindasan tetap penindasan, penjarahan terhadap kekayaan sebuah bangsa yang tak terbayar secara adil membuat kesengsaraan yang di akibatkan berbagai macam modus penindasan.
Perjalanan buruh pada saat dinasti belanda tak dapat terpisahkan dengan bentuk pergerakannya. Pergerakan yang mana mereka mereka dari tahun ke tahun sampai pada saat dinasti reformasi tetap menuntut Upah dan kondisi kerja yang layak. Yang membedakan pergerakan buruh pada saat dinasti Belanda yaitu pergerakannya terselip politik yang mana bukan hanya memperjuangkan upah dan kondisi kerjanya tapi pergerakan yang mengupayakan pada pelepasan kerangkeng penjajahan belanda kala itu. Meskipun kapasitor buruh hanya sebagai pemain figuran atau yang tepatnya mereka menjadi pejuang garis depan ketika ada sebuah peperangan, dan buruh kala itu menjadi kartu mati sebuah permasalahan yang dapat ditimbulkan sehingga dapat menajdi sebuah pemberontakkan.
Walhasil revolusi 45 telah menancapkan sang merah putih di atas patung Liberty. Indonesia belum memasuki masa kemerdekaan yang sesungguhnya, itu terdapat pada UUD kita ,yang mana kita baru sampai kedepan pintu gerbang kemerdekaan dan belum sedikitpun kita merdeka dari segala macam bentuk penindasan. Banyak persoalan yang terjadi di negeri tercinta ini, penjajahan kulit putih terhadap kita serta penjajahan produk-produk cina terhadap pasar industri kita dan yang lebih menginjak kita yaitu penjajahan cina kulit hitam (Pribumi menjajah pribumi) yang terjadi di segala bidang dalam sendi-sendi kehidupan kita .Secarik pernyataan yang menegaskan bahwa “besar pasak dari pada tiang“ itulah dinamika yang terjadi pada para kaum pekerja kita yang mana sulit untuk menghidupi diri dan keluarga mereka manakala upah yang mereka terima tidak sesuai dengan kebutuhannya. Mereka pun terbentur pada harga kebutuhan yang tidak selalu stabil yang membuat mereka harus mengurangi jatah susu ubtuk anak mereka dan menggantikan Ubi sebagai nasi, makanan pokok untuk mereka makan sehari-hari.
Sekarang sudah banyak terbentuk sarikat-sarikat buruh yang mana sebelum dikeluarkannya SK Menteri Tenaga Kerja no.5 tahun 1998 hanya Federasi Serekat Pekerja Seluruh Indonsia (FSPSI) yang menjadi sarana organisasi berpolitik bagi para buruh berikut serikat buruh yang terbentuk hanya sebatas cabng-cabang wilayahnya. Adanya serikat buruh tidak dapat berjalan mulus. Serikat yang pada sifatnya sangat rentan dengan perpecahan,kedua adalah perbedaan pada orientasi serikat dan ketiga sifat yang eksklusif. Masalah ke-eksklusifan ini menjadi cirri pokok pada serikat ,ketika buruh memilih berserikat bagi kelompok-kelompok lain seperti golongan intelektual atau kaum pekerja liberal tidak dapat menarik perhatian dan buruh sulit mendapat dukungan bagi perjuangannya. Jikalau ada aliansi-aliansi yang terbentuk antara buruh , nelayan dan petani ,itupun sifatnya dipermukaan saja dan bukan merupakan strategi permanen dan melekat dalam keseluruhan strategi perjuangan mereka. Terkadang ke-ekslusifan terjadi antar sesama serikat yang mana penyebabnya ialah ke-eksistensian mereka pada serikat.
Lalu bagaimana dengan kaum intelektual atau kaum elit menengah seperti kita ini? Ataukah kita menutup dan membutakan mata kita terhadap dinamika kehidupan kaum pekerja yang mana mereka kaum pekerja telah dapat membangun suatu oraganisasi modern serta strategi-strategi pergerakannya dan kita sebagai intelektual hanya menganggap mereka adalah sebagian kecil dari proses terbentuknya suatu globalisasi.Bentuk perjuangan mereka adalah sendi dari pendidikan yang kita dapat. Tidak serta merta mereka terlupakan oleh sejarah kita .Dimana sejarah hanya terdapat peristiwa yang dilakukan oleh orang-orang besar ,orang-orang yang kita anggap “founding father” bangsa kita . Padahal jika berpaling ke esensi sejarah bahwa sejarah ialah peristiwa kemanusiaan yang tidak memandang suatu golongan ,kita seharusnya berkewajiban mengungkap bentuk-betuk peristiwa sekecil apapun yang pernah terjadi pada masa-masa yang pernah terlewati.
Lalu kembali pada dinamika kehidupan buruh , dari masa ke masa hubungan perburuhan antara buruh-majikan seharusnya menjadi hubungan industrial yang harmonis ,dimana posisi buruh dan majikan adalah setara dan keduanya memiliki kepentingan yang sama serta dimana Negara berperan mengayomi keduanya . Menurut Karl Marx, negara adalah tak lain dan tak bukan hanya menjadi alat penindas bagi satu kaum menindas kaum lainnya.


Satrio, Pend. Sejarah 2009


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Charles Goodyear

Sunday, 6 June 2010


Ilmuan yang Tidak Bisa Menikmati Hasil Temuannya

“Seorang pria memiliki alasan untuk menyesal hanya bila ia menabur dan tidak ada yang menuai”

Kata-kata Charles Goodyear di atas mungkin dapat menggambarkan kehidupannya selama ia menjadi ilmuan. Ia harus menerima kenyataan bahwa ia adalah salah seorang penemu yang tidak dapat menikmati hasil dari temuannya. Hal itu terjadi karena hasil penemuannya telah dibajak oleh orang lain. Ia pun meninggal dalam keadaan yang miskin sekali dan terlilit hutang sebesar $200 ribu.
Charles Goodyear lahir pada tanggal 29 Desember 1800 di New Haven, Connecticut, Amerika Serikat. Ia adalah seorang penemu vulkanisasi (proses kimia untuk memperbaiki mutu karet dengan cara mencampur dengan belerang dan memanaskannya). Goodyear mengarang sebuah buku tentang penenmuannya yang terdiri dari 2 jilid dan berjudul Kekenyalan Karet dan Variasinya (1853-1855).

Cita-cita pada saat ia masih remaja adalah menjadi seorang pendeta. Tetapi, ayahnya memilki perusahaan kecil yang memproduksi barang-barang dari besi seperti cangkul, sabit, gergaji engsel pintu dan lainnya. Ketika ia berumur 21 tahun, ia bekerja sebagai karyawan ayahnya. Ia menikah pada umur 24 tahun dengan Clarissa Becher. Dari pernikahannya, Goodyear dikaruniai 7 orang anak. Kehidupan Goodyear sangatlah miskin sehingga ia terpaksa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara meminjam uang dan meminta makanan ke tetangga serta teman-temannya. Akhirnya, ia harus dipenjara karena tidak bisa melunasi hutang-hutangnya.
Pada tahun 1830 dunia sedang mengalami demam karet dan empat tahun kemudian Charles pun tertarik menggeluti dunia karet. Pada waktu itu, ada beberapa perusahaan karet yang memproduksi jas hujan, karet dan selang air karet. Tetapi, cuaca di Amerika sering berubah. Pada musim panas, karet biasanya menjadi lekat, lunak dan kehilangan bentuknya yang semula. Sedangkan pada musim dingin karet itu menjadi kaku dan rapuh. Ia pun berusaha untuk mengatasi sifat buruk dari karet yang tidak tahan terhadap pergantian musim. Berbagai eksperimen pun dilakukan selama tiga tahun. Namun, tetap tidak menemukan hasil. Eksperimen tersebut dilakukannya di dalam penjara. Setelah bebas dari penjara, ia berhutang lagi kepada salah satu temannya untuk melanjutkan eksperimennya. Pada tahun 1837, ia bertemu dengan Nathaniel M. Hayward (1808-1865), bekas karyawan pabrik karet Roxbury. Hayward juga membuat eksperimen dan berhasil menemukan bahwa karet yang dicampurkan belerang tidak akan lekat pada musim panas.
Pada suatu hari, secara kebetulan Goodyear menjatuhkan campuran karet dan belerang ke atas tungku api yang panas. Karena campurannya tidak meleleh, ia pun menjadi sangat heran. Esok harinya, ia dibuat heran lagi karena campuran tersebut berubah menjadi dingin. Campuran tersebut menjadi kedap air, kenyal dan kedap udara. Ketika dipanaskan lagi, karet tersebut menjadi tidak lekat, lunak dan berubah setelah secara kebetulan Goodyear menemukan vulkanisasi. Vulkanisasi berasal dari kata Vulkan, yaitu dewa api dalam agama orang Romawi.
Pada mulanya, Goodyear menamakan penemuannya, karet tahan api. Ia menemukan vulkanisasi pada tahun 1839. Karena proses vulkanisasi begitu sederhana, penemuan Goodyear pun dibajak oleh orang lain. Ia pun harus banyak berhutang untuk memerangi para pembajak yang jumlahnya sekitar 600 orang. Pada tahun 1844, ia akhirnya mendapatkan hak paten dari penemuannya. Tetapi, kemenangan terakhirnya melawan pembajak harus didapatkannya setelah berjuang selama 13 tahun, yaitu antara tahun 1839 sampai dengan tahun 1852. Pada tahun 1851, ia meminjam uang sebesar $30.000 untuk mengadakan pameran internasional di London. Ia memamerkan kursi karet, meja karet, permadani karet dan buku yang terbuat dari karet serta perhiasan dari karet. Empat tahun kemudian, Goodyear meminjam uang lagi sebesar $50.000 untuk mengadakan pameran yang sama di Paris. Bahkan ia mendirikan pabrik karet di Perancis, namun pabrik tersebur mengalami kebangkrutan. Ia pun ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara akibat tidak dapat melunasi hutang-hutangnya.
Setelah keluar dari penjara dan kembali ke Amerika Serikat, ia meminjam uang lagi untuk mendirikan pabrik karet yang divulkanisir. Ia berharap produksi pabriknya laku keras dan menghasilkan banyak keuntungan. Tapi, para pembajak hasil karyanya ikut berlomba mendirikan pabrik dengan produksi yang sama juga. Sebelum menikmati hasil temuannya, Goodyear pun meninggal dunia pada tanggal 1 Juli 1860 di usianya yang ke-60. Orang lain yang membajak hasil karyanya hidup dengan menikmati keuntungan yang berlimpah-limpah. Atas jasanya, nama Charles Goodyear diabadikan sebagai nama perusahaan karet terbesar di Amerika Serikat.

Achmad Seftian, Pend. Sejarah 2008


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Rantau nan Batuah

Friday, 4 June 2010


Penyatuan kebangsaan Indonesia dimulai ketika adanya penyatuan lokalitas dari berbagai daerah. Pada masa pergerakan, antara 1927 sampai 1945 para pemimpin partai, ormas dll mengikrarkan satu hal yang sama yakni Indonesia. Jelas pada masa itu perjuangan intelektual Indonesia di dasarkan rasa nasionalismenya terhadap Negara, bukan chauvisme terhadap daerah- daerah asal.

Namun seiring perkembangan sejarah, Jawa merupakan komponen daerah terbesar pusat dari segala perjuangan meskipun didalamnya banyak sekali tokoh-tokoh kebangsaan yang berasal dari luar Jawa. Minangkabau merupakan salah satu penghasil tokoh-tokoh besar dalam sejarah, namun karena sentralisasi jawa dalam sejarah, tidak mengenal daerah Minang sebagai produksi intelektualitas.

Bukti bersejarah yang terpenting adalah terbentuknya Indisce Vereniging(1) di negeri yang pada saat itu menjadi koloni di Indonesia yakni Belanda. Organisasi itu di bentuk dalam waktu yang bersamaan dengan terbentuknya organisasi di Jawa yakni Boedi Oetomo pada 1908 yang di ketuai oleh Iwa Kusumasumantri yang merupakan mahasiwa berasal dari Minang. Namun dalam perkembangan sejarah, peran IV seakan-akan dikesampingkan, hal tersebut dapat dilihat sampai sekarang dengan masih diagungkannya BO sebagai organisasi yang bersifat nasional, walaupun kenyatanya organisasi ini bersifat kedaerahan. Walaupun demikian, sejarah adalah sesuatu yang mutlak, oleh karena itu, walaupun Jawa adalah pemegang sejarah. Namun perlua adanya evaluasi dan mencoba untuk mengkaji sejarah tidak hanya dari prespektif Jawa.


1.Karakter dan falsafah adat Minangkabau
Masyarakat Minangkabau memiliki ciri khas dinamisme dan anti-parokhalisme keinginan menjadi yang lebih baik tersebut timbul dalam falsafah adat dan menjadi prinsip bagi masyarakat Minangkabau . Melalui struktur pengalamannya, masyarakat Minangkabau memiliki prespektif bahwa adat dan falsafah Minangkabau memandang konflik sebagai esensil untuk mencapai dan memepertahankan integrasi kebudayaan. Pertahanan ini timbul dalam adat istriadat masyarakat Minangkabau yang memiliki kemampuan kecerdasan sehingga membawanya kearah dinamisme. Kecardasan itu berangkat dari legenda yang sangat terkenal di Sumatera Barat mengenai hubungan orang Jawa dengan orang Minangkabau. Salah satu cerita yang paling terkenal adalah ekspedisi Raja Kerta Negara ke Sumatera pada abad 13. Dalam menghadapi serangan Jawa, masyarakat Minang perlu bersatu. Namun mereka berfikir, perlawanan secara frontal akan membuat mereka kalah. Kepada Kerajaan Jawa, mereka mengusulkan untuk berperang dengan cara adu kerbau, panglima Jawa menyetujui usul itu dan memilih kerbau yang besar dan paling galak sebagai utusannya. Sedangkan masyarakat Minangkabau mengelabui pihak Jawa dengan cara tipu daya, mereka mengutus anak kerbau yang tidak makan dan diberi susu selama beberapa hari, sebelum adu kerbau, anak kerbau tadi di ikat diatas kepalanya dua pisau. Pertarungan kerbau itu dimulai, dan dapat terlihat jelas bahwa yang menang adalah kerbau yang kecil karena kerbau dari pihak Jawa menurut perkiraan kerbau kecil adalah induknya, lalu kerbau kecil tersebut mengejar induknya dan menanduk-nanduk perut kerbau besar itu dengan kepala yang telah terdapat pisau. Karena kemenangan ini, masyarakat Minang mengabadikannya dengan nama Minangkabau yang berarti menang kerbau. Dari legenda tesebut menyulut keyakinan bahwa masyarakat Minang memiliki intekektual yang tinggi(2).

Selain memiliki sifat dinamis dan intelektual yang tinggi. Masyarakat Minang juga memiliki Kemampuan adat bertahan melawan perkembangan zaman yang mampu merubah paradigma berfikir dan sikap mampu di maksimalkan dengan pengembangan diri menerima hasil pembaharuan. Penerimaan tersebut merupakan salah satu kebutuhan untuk terciptanya pembawaan masyarakat menjadi yang lebih baik. Namun tidak menghilangkan dasar adat yang telah tertanam dalam masyarakatnya, karena masyarakat Minangkabau sangat mempertahankan adat sebagai pondasi ciri masyarakatnya. Walaupun demikian tidak berarti bahwa menolak unsur-unsur budaya baru, bila budaya tersebut dianggap baik maka adat Minangkabau menerima dan mengakulturasikan kedalam budayanya. seperti masuknya masuknya Islam (agama). Hasil dari pembauran itu semua dapat dilihat bagaimana jati diri masyarakat Minangkabau mendorong proses moderinisasi demi tercapainya kemajuan(3).

Keterbuakaan diri adat Minagkabau juga disesuaikan pada tuntutan perkembangan zaman. Tetapi pada saat yang bersamaan masyarakat Minangkabau mampu mempertahankan karakter dan bentuk asli dari adat dan falsafahnya. Masuknya budaya baru ke dalam diri mereka, tidak berarti merusak atau melemahkan adat, tetapi mampu memperkuat dan memperkaya adat yang telah ada(4). Itu dikarenakan ada proses dinamika untuk mengambil mana yang baik mana yang buruk dari pembauran adat tersebut.

2. Nilai Falsafah Perantauan
Pergi merantau menurut falsafah Minangkabau berarti membuka mata warga Minang untuk mengenal dunia luar yang luas dimana mereka akan menemui hal-hal yang baru yang akan di bawa pulang(5). Perantauan ini memakan waktu yang lama, hal ini dikarenakan perbedaan dalam tujuan merantaunya, ada yang bekerja ataupun menuntut ilmu. Dalam kisah pribadi sejarahwan Taufik Abdullah bagaimana waktu lama selama merantau itu menjadi suatu kebiasaan yang wajar.

Betapa saya ingin berandai-andai dengan para penumpang bis ini. Tetapi dengan siapa? Terasa seakan-akan hanya saya saja yang sendirian tanpa teman. Duduk dikursi paing belakang, akhirnya saya ringankan saja mulut untuk berkata pada kenek bis, “sudah empat tahun tak pulang” kata saya memberi senyum minta simpati. Tetapi sayang, ia hanya merangguk dan memberi komentar pendek “biasa!”. Dan saya pun kehilangan bahan pembicaraan, betapa besar harapan saya agar ia mau saja bertanya meski berlalu saja “mengapa?” dan saya pun tentu akan menceritakan sekedarnya(6).

Kisah tersebut merupakan gambaran bahwa masyarakat Minang tidak akan pulang sebelum menjadi “pemenang”(7). Dasar perantauan mereka dilandasi niat dan tekat yang matang, walaupun daerah tersebut belum diketahui sebelumnya.

Dalam adat Minangkabau perantauan di istilahkan sebagai rantau nan batuah yakni suatu ajaran kultur yang mendorong para remaja Minang untuk keluar kampung halamannya. Kata bertuah (8)maksudnya daerah yang tidak dikenal atau menakutkan. Namun itu adalah sebuah tantangan dan harus dilaksanakan dengan keteguhan hati. Oleh karena itu, si perantau harus memiliki niat dan tekat untuk merantau meski daerah tersebut tidak ia kenal sama sekali. Selain itu, perantauan juga dapat membuka mata para warganya untuk mengenal dunia luar yang luas dimana mereka akan menemukan hal-hal baru yang nanti akan dibawa pulang(9). Intinya kemanapun si perantau pergi, ia akan kembali lagi ke halamannya dengan segala barang bawaannya, baik harta maupun ilmu. Sebagai contoh, Pada masa pergerakan, banyak tokoh-tokoh besar lahir dari produk perantauan, hal tersebut dapat dilihat bagaimana pada 1908 para mahasiswa-mahasiswa Minang melanjutkan sekolah sampai di negeri Belanda, hasilnya mereka membentuk suatu perkumpulan yang bernama Perhimpunan Indonesia yang menghasilkan orang-orang besar yang berasal dari ranah Minang seperti Iwa Kusumasumantri, Sjafrudin Perwiranegara, Moh Hatta dan Sjahrir.

Pada dasarnya, banyak sekali pendapat yang mengatakan bahwa definisi rantau seakan-akan mencari uang dan harta. Lain daripada itu, ilmu merupakan tujuan sesungguhnya. Pada nantinya mereka akan memainkan peran sebagai guru atau ulama sehingga masyarakat bisa ikut menerima apa yang baik dan apa yang buruk. Ini merupakan keselarasan bagaimana adat dan falsafah Minang adalah adat yang terbuka dalam menerima sesuatu demi tercapainya moderenisasi.

Visi dan adat Minangkabau, menuntun kepada warganya untuk menyelaraskan dan membandingkan dunia tempat asalnya dengan dunia yang mereka singgahi selama perantauan. Itu dikarenakan sebagai pemilahan budaya luar yang masuk kedalam adat istiadat Minang, sehingga dapat diketahui yang mana yang baik dan yang mana yang buruk dan yang mesti diserap(10).

3. Pemenang dalam Perantauan.
Sejarahwan Taufik Abdullah mengungkapkan bahwa tokoh-tokoh besar dalam dinamika sejarah Indonesia merupakan orang-orang yang berasal dari Minangkabau, “pemenang dirantau”(11) begitulah ungkapan yang biasa ia katakan sebagai kebanggaan bagaimana banyak “orang awak” mampu bersaing dengan orang-orang luar. Selain itu, kebanggaan besar lainnya kemenangan yang diperoleh “orang awak” tersebut tidak hanya material, tetapi juga pemikiran-pemikiran yang sangat berguna bagi bangsa dan negaranya seperti: Tan Malaka, Moh Hatta dll.

CATATAN KAKI
1. Suwidi Tono, Maha Karya Soekarno-Hatta (Jakarta : Vision, 2009) hal. 95-96. Organisasi perkumpulan mahasiswa Indonesia di Belanda yang berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia.
2. Audrey Kahin, dari Pemberontakan ke Integrasi (Jakarta : Obor, 2008), hal.6.
3. Alfian, Tan Malaka: Pejuang Revolusioner yang Kesepian, prisma, no. 7 (1988), hal. 60.
4. Ibid.
5. Ibid., hal.61.
6. Audrey Kahin, Op. Cit., Xii. Sebuah pengantar dari Taufik Abdullah mengenai buku tersebut.
7. Kata yang diucapkan oleh Taufik Abdullah melihat kesuksesan para perantau dari tanah minang di daerah perantauannya, seperti para tokoh nasional yakn, M. Yamin,M.Hatta, Tan Malaka, Sjahrir dll.
8. Ada perbedaan kata antara bahasa melayu dengan minang dalam mendefinisikan kata bertuah. Bagi bahasa Melayu bertuah artinya keberuntungan. Bagi bahasa minang berarti tidak dikenal atau menakutkan.
9. Alfian, Loc. Cit.
10. Alfian, Op. Cit., hal. 62.
11. Audrey Kahin, Lo. Cit., hal. xvi.

DAFTAR PUSTAKA
Alfian, Tan Malaka: Pejuang Revolusioner yang Kesepian, prisma, no. 7 (1988)
Kahin, Audrey, dari Pemberontakan ke Integrasi (Jakarta: Obor, 2008)
Kompas (Jakarta), 26 Mei 1984
Tono, Suwidi, Mahakarya Soekarno-Hatta (Jakarta : Vision, 2009)

Okto Dellon (Pend Sejarah TA 2008)


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......