Mengungkap apa itu Stonehenge

Share

Kamis, 29 April 2010


Data Buku
Judul : Stonehenge, A Temple Restor’d To The British Druids
Penulis : William Stukeley
Penerbit : London: Printed for W. Innys and R. Manby, 1740.
Tebal : 127 halaman
Tahun Terbit : 2007
Harga : $7.67

Stonehenge merupakan salah satu keajaiban yang ada di dunia yang sampai saat ini belum diketahui sapa yang membuat dan untuk apa bangunan itu di buat. Dalam buku ini dimuat banyak dibuat tentang spekulasi apa kegunaan dari batu-batuan yang berjajar dengan rapih ini. Namun tetap saja masih belum terjawab siapa yang membuat bangunan ini. Dalam buku yang memiliki tebal 120 halaman ini hanya diungkap yang menggunakan bangunan ini dari zaman Yunani Kuno sampai Inggris masa modern dan untuk apa bangunan ini.

Seperti halnya Lockery, dalam buku ini Stukeleys juga hanya ingin memunculkan fakta-fakta baru yang ia dapat dari penelitian tentang stonehenge. Ia mengungkapkan bahwa zaman Yunani Kuno, Herodotus dan Heracleitus, mengungkapkan bahwa stonehenge digunakan sebagai kuil pemujaan dewa-dewa. Namun berganti alih pada zaman Romawi Kuno, pada zaman ini stonehenge digunakan sebagai tempat pengorbanan terhadap dewa-dewa. Namun pada zaman yang lebih modern, stonehenge digunakan hanya sekedar tempat rekreasi.

Fakta Baru Mengenai Stonehenge

Stonehenge adalah bangunan peninggalan prasejarah yang mungkin berasal dari sejak zaman megalithikum, itu hanya jika dilihat dari batu penyusun bangunan ini. Bangunan ini berada di daerah Salisbury sekitar 92.3 mil atau kurang lebih 2 jam perjalanan. Namun banyak fakta baru yang bermunculan seiring dengan banyaknya ekskafasi dan penelitian terhadap bangunan ini.
Fakta pertama adalah bahwa stonehenge merupakan kuil yang digunakan untuk menyembah para dewa, ritual-ritual ini telah dilakukan sejak zaman prasejarah. Stonehenge memiliki bentuk yang unik, yaitu susunan batu melingkar 2 lapis, lapis luar berfungsi sebagai pelindung sedangkan lapisan dalam berupa altar dan meja persembahan.
Fakta tersebut diperkuat dengan hasil penelitian yang mengatakan bahwa sejak zaman Yunani Kuno yaitu masa Herodotus dan Heracleitus, stonehenge juga mereka gunakan untuk tempat ritual-ritual atau tempat pemujaan dewa-dewa Yunani. Hal ini muncul karena terdapat kesamaan reliaf dan bentuk struktur bangunan antara stonehenge dangan kuil-kuil yang ada di Yunani.
Fakta lain yang muncul adalah stonehenge juga pernah digunakan oleh orang-orang di Romawi. Hal ini diperkuat karena ada bekas peninggalan-peninggalan yang berasal dari kerajaan Romawi tak jauh dari letak stonehenge atau 35.1 mil dari stonehenge. Pada masa Romawi stonehenge tetap menjadi kuil hanya saja ada penambahan ritual-ritual pengorbanan yang dilakukan didalamnya. Namun fakta ini lemah karena biasanya tempat pengorbanan dekat dengan sungai, sedangkan stonehenge sangat jauh dari sungai.
Sejak adanya revolusi industri daerah ini mulai terlupakan karena orang-orang mulai terfokus hanya pada industri. Namun daerah mulai dilihat lagi sebagai daerah penelitian untuk mengetahui apa kegunaan bangunan ini dan siapa yang membuatnya. Namun seiring berjalannya waktu daerah ini menjadi tempat rekreasi.
Fakta lain yang menarik dari stonehenge adalah bentuk tanah yang membentuk lingkaran bertingkat yang tertata rapih. Hal ini membuktikan bahwa zaman dlu telah mengenal tata letak yang sangat baik, bahkan bentuk stonehenge sendiri seperti pusat dari lingkaran tersebut. Bentuk altar yang juga berupa lingkaran semakin menguatkan hipotesa bahwa stonehenge adalah sebuah kuil.

Hanya Sebatas Kuil

Meskipun awal dibangunnya stonehenge masih belum diketahui kapan dan siapa pembangunnya, namun stonehenge tetap saja menjadi suatu peninggalan yang sangat indah dan misterius. Terlihat dari banyaknya orang-orang yang berspekulasi mengenai kegunaan batu-batu besar yang tersusun secara rapih ini.
Meskipun banyak spekulasi mengenai kegunaan dari stonehenge, namun spekulasi yang paling mendekati benar adalah spekulasi yang mengatakan bahwa stonehenge adalah sebuah kuil. Dalam buku ini juga disebutkan bahwa si penulis lebih mendukung fakta yang mengatakan bahwa ini sebuah kuil bukanlah sebuah tempat ritual pengorbanan seperti yang dilakukan oleh orang Romawi. Hal ini ia pertegas dengan bantahan bahwa setiap tempat persembahan atau pengorbanan haruslah dekat dengan sungai, sedangkan stonehenge sangat jauh dari sungai (h. 17).
Mungkin keunggulan buku ini terletak pada pemaparan hipotesa dan penjelasan mengenai fakta-fakta yang sangat relevan. Selain itu bentuk penjelasannya juga tidak terlalu sulit untuk dipahami. Teori-teori yang digunakan dalam buku ini juga menggunakan teori-teori lama yang telah berkembang sebelum buku ini dibuat. Mungkin hal inilah yang membuat buku ini dicetak ulang pada tahun 2007 yang sebelumnya dicetak pada tahun 1740.
Untuk kelemahan buku ini sendiri adalah penggunaan kata-kata dalam bahasa inggris kuno tidak diubah menjadi bahasa inggris modern, mungkin penerbit ingin membuat ini seperti buku aslinya, namun hal itu justru membuat para pembaca agak sulit memahami maksud dari buku ini. Selain itu kurangnya ilustrasi gambar membuat pembaca sulit membayangkan bagaimana keadaan stonehenge pada tahun 1740 dan perbedaannya dengan tahun 2007.
Meskipun bahasa yang sulit, tetap saja buku ini menjadi bacaan wajib bagi tiap peneliti yang ingin melakukan penelitian terhadap stonehenge, karena buku ini memiliki landasan teori yang sangat kuat.


Reza Alkahfillah (Pend Sejarah 08)

0 komentar: