Kopassus Untuk Indonesia

Tuesday, 31 August 2010


Judul Buku : KOPASSUS UNTUK INDONESIA
Penulis : Iwan Santosa & E.A Natanegara
Penerbit : Red & White Publishing House
Tebal : 343 Halaman
Tahun Terbit : 2009


Kopassus merupakan salah satu unit dari TNI yang terkenal di diantara tentara – tentara di dunia karena keberhasilannya dalam membebaskan pesawat DC 9 dalam 5 menit dari pembajakan pesawat yang marak pada dekade 80-an di bandara Don Muang, Thailand. Berkat keberhasilan operasi anti teror tersebut maka dibentuklah Detasemen 81 Anti Teror pada 30 Juni 1982.

Didalam buku ini tidak hanya diceritakan mengenai operasi – operasi Kopassus saja tetapi didalam buku ini juga diceritakan mengenai sejarah singkat berupa timeline dari Regiment Speciale Troepen di tahun 1946 hingga terbentuknya Kopassus. Pola latihan kopasus sangat ekstrim membuat para anggota Kopassus memiliki ketahanan fisik dan mental yang melampaui manusia pada umumnya bahkan pola latihan menembak kopassus yang menggunakan peluru sungguhan (bukan peluru karet) dikritik oleh para pelatih pasukan khusus dari negara lain karena dianggap terlalu berutal.

Banyak sekali operasi – operasi kopassus di daerah daerah konflik di Indonesia. Contohnya konflik di Aceh. Seorang perwira Kopassus yang ditugaskan dalam operasi Intelejen Kopassus di Aceh berhasil menyelinap hingga ke markas GAM walaupun seorang perwira kopassus tersebut harus menyamar menjadi seorang pedagang durian selama berbulan-bulan.

Adalagi kisah seorang perwira Kopassus yang ditugaskan di daerah konflik SARA di Ambon. Perwira kopassus tersebut menghadapi liarnya para warga – warga yang memegang senjata dan menembaknya secara membabi buta, selain itu perwira itu harus juga dikejar-kejar oleh warga di tanah kelahirannya sendiri karena berusaha melerai konflik SARA di daerah tersebut.

Dalam bencana alam, kopassus juga ditugaskan secepat kilat dalam menangani daerah-daerah yang terkena dampak serius, misalkan daerah Meulaboh di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang terkena dampak paling parah akibat terjangan tsunami, gempa bumi di Yogyakarta, dan banjir yang melanda Ibukota.

Dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dipahami menjadikan buku “Kopassus Untuk Indoesia ini layak untuk dibaca.


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Tragedi Woyla

Wednesday, 21 July 2010


Pembajakan Pesawat Garuda DC 9, Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia

Pada tanggal 28 Maret 1981, lima orang teroris, yaitu Zulfikar, Mahrizal, Wemdy, Abdullah Mulyono, Ali Yusuf dan Ma'ruf yang mengaku sebagai kelompok Islam ekstermis “Komando Jihad” telah melakukan pembajakan di dalam pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla yang berisi 48 orang penumpang. Pesawat tersebut terbang dari Jakarta pada pukul 08.00 WIB, lalu transit ke Palembang, dan akan terbang lagi ke Medan dengan perkiraan waktu tiba, yaitu 10.55 WIB.

Pembajakan mulai terjadi ketika pesawat yang dikemudikan oleh Kapten Herman Rante baru saja terbang dari Pelud Sipil Talang Betutu, Palembang setelah transit untuk menuju Bandara Polonia, Medan. Setelah lepas landas, dua penumpang bangkit dari tempat duduk mereka, satu menuju ke kokpit dan menodongkan senjata. Satu lagi berdiri di jalan antara tempat-duduk pesawat. Pada pukul 10.10, para pembajak yang memegang senjata api berhasil menguasai pesawat tersebut. Pembajak di kokpit memerintahkan pilot untuk terbang ke Kolombo, Sri Lanka, tetapi pilot berkata bahwa pesawat tersebut tidak memiliki cukup bahan bakar pesawat, dan kemudian pesawat dialihkan ke Penang, Malaysia, untuk pengisian bahan bakar dan terbang lagi ke Thailand atas paksaan teroris dan penerimaaan pemerintah Thailand untuk mengizinkan pesawat tersebut mendarat di wilayahnya.
Para pembajak menuntut agar para rekannya yang ditahan pasca Peristiwa Cicendo di Bandung, Jawa Barat, segera dibebaskan. Dalam Peristiwa Cicendo, 14 anggota Komando Jihad membunuh empat anggota polisi di Kosekta 65 pada 11 Maret 1981 dini hari. Setelah peristiwa itu, sejumlah anggota Komando Jihad ditahan dan terancam hukuman mati. Selain itu, para pembajak juga menuntut uang sebesar US$ 1,5 Juta dan sebuah pesawat untuk pembebasan tahanan serta untuk terbang ke suatu tempat yang dirahasiakan. Mereka juga mengancam bahwa pesawat tersebut telah dipasangi bom dan tidak segan-segan untuk meledakkannya.
Berita pertama pembajakan tersebut mulai diketahui pada pukul 10.18, saat Kapten Pilot A. Sapari dengan pesawat F28 Garuda yang baru tinggal landas dari Bandara Simpang Tiga, Pekan Baru mendengar panggilan radio dari Garuda Indonesia 206 (Woyla) yang berbunyi “..being hijacked, being hijacked”. Berita tersebut langsung diteruskan ke Jakarta, berita yang mengejutkan petugas keamanan karena pada saat bersamaan juga diadakan latihan gabungan yang melibatkan semua unsur pasukan tempur di Timor-Timur hingga Halmahera. Berita tersebut diterima Wakil Panglima ABRI Laksamana Sudomo yang masih berada di Jakarta. Sudomo langsung meneruskan berita tersebut kepada Kepala Pusat Intelijen Strategis Benny Moerdani pun langsung menghubungi Asrama Kopasandha (Sekarang Kopassus) dan diterima oleh Asisten Operasi Kopasandha Letkol Infanteri Sintong Panjaitan. Benny memberitahu tentang dibajaknya pesawat Garuda DC-9 yang masih belum jelas berapa pembajaknya, apa motif pembajakannya dan kemana tujuan pesawat tersebut.
Sementara itu, di Jakarta pada pukul 19.25, Kepala Bakin (sekarang BIN), Jenderal Yoga Sugomo berangkat ke Bangkok. Ia mendapat berita bahwa pembajak pesawat tersebut berjumlah lima orang. Mereka semua bisa berbicara Indonesia, memegang senjata api, granat, dan mungkin dinamit. Mereka menuntut dibebaskannya tahanan atas kasus peristiwa Cicendo yang dilakukan oleh komplotan Warman beserta Komando Jihad. Para tahanan diminta untuk diterbangkan keluar Indonesia dan tempatnya dirahasiakan serta dengan diberikan uang sebesar 1, 5 juta dolar AS. Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, maka lima orang pembajak tersebut akan meledakan pesawat beserta seluruh penumpangnya.
Sabtu, sekitar jam sepuluh malam, Kolonel Teddy Rusdi, Benny Moerdani dan Sudomo berhasil menemui Presiden Soeharto di Cendana. Mereka membicarakan langkah apa yang harus diambil untuk mengatasi masalah pembajakan tersebut. Kesimpulannya, pembajakan tersebut akan diselesaikan dengan melancarkan sebuah operasi militer dimana penanggung jawab operasi ini adalah Benny Moerdani.
Pada minggu malam, pemerintah Thailand memberikan izin bahwa pasukan anti terror Indonesia boleh mendarat Indonesia. Meskipun sebelumnya pemerintah Thailand bersikeras agar pasukan mereka yang mengatasi pembajakan tersebut. Para pasukan yang ditugaskan untuk melakukan operasi militer yang bertujuan membebaskan pesawat yang dibajak, terbang ke Thailand dengan menggunakan pesawat DC-10 dengan berkamuflase menjadi pesawat yang baru terbang dari Eropa. Benny memerintahkan agar serangan dimulai sebelum fajar. Ia juga meminta agar petugas Garuda di Don Muang menyiapkan 17 peti mati.
Pada pukul 02.45, serangan dimulai. Pintu didobrak oleh pasukan Kopasandha dan mereka pun langsung melepaskan tembakan ke arah para pembajak pesawat tersebut. Dengan serangan mendadak tersebut, akhirnya pesawat berhasil dikuasai oleh Kopasandha pada Selasa dini hari tanggal 31 Maret 1981.
Dalam operasi militer yang singkat tersebut, seluruh teroris berhasil ditembak. Tiga diantaranya langsung tewas dan dua sisanya terluka parah. Namun, Kapten Herman Rante, pilot pesawat DC 9 dan Achmad Kirang, anggota Kopasandha terluka parah akibat terkena tembakan para teroris. Satu hal yang cukup melegakan adalah bahwa tidak ada satu pun penumpang yang tewas.
Begitu pesawat berhasil dikuasai, Benny langsung menyambar mike dan langsung mengatakan kepada Jenderal Yoga Sugomo (Kepala BAKIN saat itu) bahwa pesawat telah berhasil dikuasai. Namun, Jenderal Yoga merasa kaget karena ia tidak mengira bahwa pesawat akan berhasil dikuasai secepat itu.
Pesawat Garuda DC 10 Sumatera yang mengangkut para pasukan anti teror Kopasandha meninggalkan bandara Don Muang, Thailand pada hari Selasa pukul 05.00 pagi. Dua pembajak yang luka parah dan sempat mengalami perawatan tim medis dari Kopasandha tidak berhasil diselamatkan dan akhirnya meninggal dunia. Kemudian kelima jenazah teroris tersebut ikut diterbangkan ke Jakarta pada pagi hari itu juga. Sementara itu, Achmad Kirang meninggal dunia di rumah sakit Bhumibhol, Bangkok. Lalu, enam hari setelah operasi pembebasan pesawat Woyla tersebut, Kapten Herman Rante juga meninggal dunia di Bangkok. Sekitar pukul 08.00 pagi, pesawat Garuda DC 10 Sumatera akhirnya tiba di Jakarta. Keberhasilan pasukan Kopasandha dalam mengatasi pembajakan tersebut sudah tersiar lewat siaran radio di Indonesia. Pasukan Kopasandha yang berhasil melakukan operasi pembebasan pesawat Woyla tersebut, telah menjadi embrio pasukan anti terror Kopassus yang dikenal dengan nama Sat 81 Gultor. Menurut salah satu anggota Kopasandha yang ikut dalam operasi pembebasan tersebut, kunci keberhasilan dari operasi tersebut adalah serangan dengan cara tiba-tiba. Menurutnya, negosiasi dengan para pembajak adalah nomor dua.
Itulah sepenggalan kisah pembajakan dan operasi pembebasan pesawat Garuda DC 9. Pembajakan tersebut merupakan yang pertama terjadi di Indonesia dan para pasukan anti terror Kopasandha boleh berbangga diri karena operasi pembebasan tersebut berhasil dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan sangat cepat sekali, yakni hanya dalam hitungan menit.
Sementara itu, Imran Muhammad bin Zein yang dianggap sebagai otak dari peristiwa Cicendo dan pembajakan tersebut akhirnya diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan dijatuhi hukuman mati dengan tuntutan atas tindakan subversinya.

Sumber:
Pour, Julius. Benny: Tragedi seorang loyalis. Jakarta: Kata Hasta Pustaka. 2007
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1985/12/07/LN/mbm.19851207.LN37774.id.html


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Herman Willem Daendels

Sunday, 4 July 2010

Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang Revolusioner dan Kejam
Herman Willem Daendels lahir di Hattem, 21 Oktober 1762 sebagai anak kedelapan dari 13 bersaudara. Ia merupakan Gubernur-Jendral Hindia-Belanda yang ke-36. Ayahnya bernama Burchard Johan Daendels dan Josina Christina Tulleken adalah ibunya. Daendels adalah gubernur jenderal yang memerintahkan pembangunan jalan raya pos. Daendels merupakan orang yang kejam hingga dikenal dengan sebutan jenderal Guntur, Mas Guntur, Marsekal Besi, bahkan di Jawa Barat ia dikenal dengan sebutan Mas Galak. Di tangannya, ribuan orang Indonesia menemui ajalnya. Karena pembangunan jalan raya pos, namanya jadi mendunia.

Daendels ditunjuk menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1808 oleh Raja Belanda, Louis Napoleon yang merupakan adik dari Kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte yang saat itu menduduki Belanda. Daendels mendarat di Anyer pada tanggal 5 Januari 1808 dan menggantikan Gubernur Jendral Albertus Wiese. Daendels diserahi tugas terutama untuk melindungi pulau Jawa dari serangan tentara Inggris. Jawa adalah satu-satunya daerah koloni Belanda-Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris setelah Isle de France dan Mauritius pada tahun 1807. Daendels pergi menuju Batavia dari Anyer dengan menempuh waktu selama empat hari perjalanan dengan naik kereta. Dia juga yang memindahkan pusat pemerintahan Hindia Belanda dari Batavia (sekitar kawasan Kota Tua sekarang) ke Weltevreden (Lapangan Banteng dan sekitarnya). Berbeda dengan apa yang dipercaya orang selama ini, Daendels selama masa pemerintahannya memang memerintahkan pembangunan jalan di Jawa tetapi tidak dilakukan dari Anyer hingga Panarukan. Jalan antara Anyer dan Batavia sudah ada ketika Daendels tiba. Oleh karena itu menurut het Plakaatboek van Nederlandsch Indie jilid 14, Daendels mulai membangun jalan dari Buitenzorg menuju Cisarua dan seterusnya sampai ke Sumedang. Pembangunan dimulai bulan Mei 1808. Selebihnya, untuk jalan sepanjang 850 km ia perintahkan kepada aparat pemerintahan dalam negeri Jawa untuk mengerahkan pekerja rodi.
Daendels adalah penganut cita-cita Revolusi Perancis: “Kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan”. Tapi, sebagai seorang penguasa yang revolusioner, ia menjadi diktator yang bengis. Perbudakan bukannya dilarang tapi dibiarkan jalan terus. Karena menimbulkan penderitaan dan kebencian rakyat Indonesia, tingkah Daendels telah menyebabkan banyak pengaduan kepada Louis Napoleon hingga pada tahun 1811 ia dipanggil pulang oleh J.W. Janssens. Berakhirlah karirnya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Setelah jatuhnya Napoleon akibat kalah dalam pertempuran di Waterloo, Belgia, Daendels mengabdi pada Raja Willem I yang tak begitu percaya pada patriot lama itu dan mengirim Daendels sebagai Gubernur ke Gold Coast di Afrika. Di sana ia tersaing, kesepian dan meninggal pada tahun 1818.
Konon orang Belanda terkenal matig (sedang-sedang saja), tidak revolusioner, sehingga gejolak revolusi abad ke-18 sampai abad ke-19 tidak banyak menarik perhatian para sejarawannya. Karena itu sampai tahun 1991, di 4 kota terbesar Belanda hanya ada satu jalan umum yang menggunakan namanya.
Dalam Hikayat Jakarta, penulis Amerika Willard A Hanna melukiskan sosok Daendels. Para petani yang mengenalnya menganggapnya sebagai momok. Para penguasa tradisional menganggapnya sebagai tiran. Sedang orang-orang Belanda di Batavia menganggapnya sebagai pengkhianat, orang yang diragukan dan dibeli oleh Napoleon. Orang Belanda malah lebih suka diperintah oleh Inggris katimbang Prancis. Saking setianya kepada Napoleon, ia pernah mengibarkan bendera Prancis di Batavia.
Sejarah Daendels di Jawa telah berakhir dengan ditariknya ia dari jabatannya pada 1811, atau hampir dua abad lalu. Tetapi, namanya sebagai seorang tiran terkenal hingga kini. Jalan raya yang dibuatnya juga tetap terbentang merupakan contoh hasil kekerasan hati perencananya. Jalan yang begitu panjang tersebut melintasi pegunungan-pegunungan, menerobos hutan balantara, jurang-jurang terjal, pantai yang panjang dan lembah yang membentang.

Sumber
Toer, Pramoedya Ananta. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Jakarta: Lentera Dipantara. 2005
http://id.wikipedia.org/wiki/Herman_Willem_Daendels
http://alwishahab.wordpress.com/2009/09/30/mudik-di-jalan-daendels/

Achmad Seftian, Pend. Sejarah 2008


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

MESIN PENCARI MASSA

Sunday, 20 June 2010


“Organisasi ialah referensi empiris mahasiswa menuju ke dunia perbudakan sesungguhnya”

Esensinya mahasiswa merupakan salah satu kekuatan pelopor di setiap perubahan di negeri ini. Dan mahasiswa melalui gerakan-gerakan mahasiswa telah berhasil mengambil peran yang signifikan dengan terus menggelorakan energi “perlawanan” dan bersikap kritis.
Pergerakan mahasiswa sejatinya harus melihat konteks kerakyatan dan tidak selalu terbelit dengan persoalan akademis yang membuat mahasiswa luluh dan melunturkan nilai-nilai kritisnya.

Sejarah telah mencatat bahwa pergerakan mahasiswa terukir menjadi beberapa angkatan dari segelintir tragedi yang telah terekam oleh zaman. Berangkat dari masa pemerintahan hindia-belanda sampai terjadinya sebuah reformasi di tahun 1998. Keadaan ini telah menandakan bahwa mahasiswa tetap pada garis pergerakan dimana pola pergerakan di setiap tempo mengikuti zaman dengan bentuk ketertindasan yang beragam.
Oleh karena itu pergerakan mahasiswa terlahir dari kampus ke kampus dan tidak hanya bergerak dari satu kampus yang hanya membicarakan lokalitas permasalahan tertentu . Pergerakan itu kini dileburkan dalam wadah persatuan yang disebut organisasi. Organisasi ini terdiri dari berbagai jenis gagasan, ada organisasi mahasiswa yang bernafaskan persatuan agama, adapula organisasi yang berdasarkan kesamaan pandangan atau ideologi. Ini semua adalah bukti bahwa pada hakikatnya mahasiswa berusaha mengeksperimentasikan gagasan lewat perjuangan kemahasiswaan.
Pasca kemerdekaan Indonesia telah banyak bermunculan organisasi kemahasiswaan, salah satunya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berdiri dua tahun setelah Indonesia mengumumkan kemerdekaannya. HMI ini bertujuan mempertahankan kemerdekaan dengan konteks masyarakat Islam pada saat itu terpecah belah dalam berbagai aliran keagamaan dan politik. Dan tidak dapat dipungkiri pula bahwa terbentuknya HMI ini merupakan underbouw dari partai masyumi kala itu. Adapula Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang sangat kental dengan Nahdatul Ulama (NU), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Forum Kota (Forkot),dan masih banyak lagi organisasi ekstrakampus yang berdiri baik pasca kemerdekaan maupun pra reformasi 1998.
Produk organisasi gerakan mahasiswa antar kampus banyak sekali lahir dan tumbuh setelah masa reformasi. Tidak menutup mata dengan kehidupannya yang telah memasuki Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini. Sedikit beromantisme, kampus eks IKIP ini sempat menjadi pelopor organisasi pergerakan mahasiswa. Kampus ini sempat mengklaim bahwasannya mereka turut andil pula dalam proses terjadinya reformasi. Salah satu alumni yang sempat mengenyam masa reformasi ini berkata, bahwa dulu pernah terjadi pembentukkan persatuan senat mahasiswa se-jakarta di kampus ini yang nantinya mengambil bagian dalam aksi penurunan rezim otoriter Soeharto.
Kini melihat keberadaan UNJ yang notabene menjadi lembaga pencipta guru, menempatkan sebuah posisi pada fungsi dan tujuan organisasi ekstra kampus di UNJ. Mahasiswa yang nantinya akan dididik menjadi calon guru ini, mempunyai berbagai kesibukannya masing-masing. Dari mulai tugas perkuliahan sampai pada kegiatan organisasi di dalam kampus. Menatap dari hal ini, hubungan antara mahasiswa dengan organisasi ekstra kampus ini menjadi sebuah paradoks yang besar tehadap peradaban mahasiswa yang telah memasuki era dehumanisasi ini. Dalih-dalih ingin membawa persatuan dan selalu mengproklamirkan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan, organisasi mahasiswa ekstrakampus yang terdapat di UNJ tidak lain hanyalah menjadi mesin perekrut massa untuk kepentingannya dalam menghegemoni perebutan eksistensi organisasi belaka. Mahasiswa yang tabu akan esensi pergerakan organisasinya masing-masing dibuat bingung dalam keberadaannya di organisasi tersebut.
Kegiatan seminar, pelatihan kepemimpinan dan ceremonial acara pengkaderan menjadi agenda rutin organisasi ekstra kampus di UNJ dalam rangka menarik minat dari mahasiswa UNJ tersebut. Mengangkat isu media untuk dijadikan sebuah wacana pergerakan adalah propaganda untuk membuat ketertarikan pada organisasi tersebut dalam meraih simpati heroik mahasiswa. UNJ yang kini berbenah diri dalam prosesnya menjadi Badan Layanan Umum (BLU) yang mana esensi BLU turut andil membuat mahasiswa dan calon mahasiswa UNJ menjadi korban komersialisasi ini tidak pernah terangkat menjadi wacana lokalitas pergerakannya. Berbeda seperti organisasi ekstrakampus di luar UNJ yang sering tanggap terhadap permasalahan mahasiswa dan masyarakat baik berupa isu lokal maupun isu nasional.
Romantisme akan keberhasilan salah satu mantan anggotanya dalam menduduki kancah perpolitikan negeri ini ,menjadi motivasi tersendiri bagi para anggota dan calon anggota dalam melihat dan mengukur sebuah organisasi yang layak menjadi kendaraan berorganisasi. Hal inilah yang menjadi kacamata dalam melihat dinamika organisasi ekstra kampus. Mahasiswa hanyalah menjadi tumbal dari mesin-mesin yang kelak akan menjadi penindas baru dipercaturan kekuasaan Indonesia. Mimpi akan mencapai kesuksesan inilah yang selalu menghantui kaum intelektual dalam memilih perahu yang akan membuat mereka berlabuh. Organisasi tak hayal hanyalah menjadi sebuah referensi empiris guna mahasiswa melanjutkan jenjang ke dunia perbudakan sesungguhnya. Mahasiswa yang tidak mempunyai referensi kerja sangat mengandalkan pengalaman-pengalamannya dalam berorganisasi. Inilah dinamika manusia yang berujung pada perebutan faktor produksinya.

Satrio, Pend. Sejarah 2009


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Il Principle (Sang Pangeran)

Wednesday, 16 June 2010

Judul Buku : Il Principle (Sang Pangeran)

Penulis : Niccolo Machiavelli

Penerbit : Narasi

Tebal : 184 halaman

Tahun Terbit : 2008


“Manusia tidak segan-segan membela dia yang mereka takuti daripada mereka cintai karena rasa cinta diikat dengan rantai kewajiban, karena manusia pada dasarnya egois, maka pada saat mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, rantai tersebut akan putus; namun rasa takut diperthankan oleh hukman-hukuman yang menakutkan yang tidak pernah gagal.” (Niccolo Machiavelli)

Machiavelli menulis buku Il Principle pada tahun 1513 dan ia persembahkan kepada keluarga Medici yang saat itu berkuasa atas Florence. Buku ini banyak bercerita tentang bagaimana cara yang seharusnya dilakukan oleh seorang pangeran dalam menggapai kekuasaan dan mempertahankannya. Namun, buku ini menyajikan cara-cara kotor yang harus dilakukan oleh sang pangeran, seperti membunuh, menipu, bersikap kejam dan licik.
Karena buku ini, nama Machiavelli sering diidentikan dengan lambang kelicikan dan kepalsuan. Bahkan, orang yang terlihat begitu ambisius dan menghalalkan segala cara dalam mencapai keinginannya, sering dianggap sebagai Machiavellis. Begitu hebatnya buku ini hingga bisa melahirkan beberapa diktator, seperti Napoleon, Hitler, Mussolini, Lenin dan Stalin. Bahkan, Napoleon selalu menaruh buku ini di bawah bantalnya sebelum tidur.
Buku ini cukup menarik untuk dibaca. Namun, bukan berarti mengajarkan kita untuk melegalkan segala cara dalam mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Machiavelli hanya berupaya berterus terang kepada keluarga Medici lewat buku ini. Dan kita akan menemukan antara yang salah dan benar di dalam buku ini.

Achmad Seftian, Pend. Sejarah 2008


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Soekarno dan Pancasila

Saturday, 12 June 2010


“Janganlah dikatakan saya ini pembentuk ajaran Pancasila. Saya hanya seorang penggali daripada ajaran Pancasila itu” -Soekarno-

Jika membicarakan sejarah lahirnya Pancasila, maka peran Soekarno tidak dapat dilepaskan daripadanya. Soekarno memiliki peranan besar dalam lahirnya Pancasila hingga dijadikannya Pancasila sebagai dasar negara. Meskipun ada upaya de-Soekarnoisasi yang telah dilakukan oleh pemerintah Orde Baru yang bertujuan mengecilkan jasa-jasa Soekarno. Bahkan, sejak tanggal 1 Juni 1970 Kopkamtib melarang peringatan hari lahirnya Pancasila.
Soekarno menyampaikan gagasan Pancasila pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 di gedung Volksraad (sekarang gedung Pancasila). Selain Soekarno, orang-orang yang menyampaikan gagasan mengenai dasar negara adalah M. Yamin yang menyampaikan Lima Asas sebagai dasar bagi Indonesia Merdeka, yaitu Peri-Kebangsaan, Peri-Kemanusiaan, Peri-Ketuhanan, Peri Kerakyatan dan Kesejahteraan Rakyat.. Namun, ketika masa Orde Baru, sejarah lahirnya Pancasila menjadi kontroversial seiring dengan kebijakan pemerintah sebagai upaya de-Soekarnoisasi.

Nugroho Notosusanto dalam bukunya Naskah Proklamasi jang Otentik dan Rumusan Pancasila jang Otentik, menuliskan bahwa ada empat rumusan Pancasila, yaitu yang disampaikan M. Yamin pada tanggal 29 Mei 1945, Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945, hasil rumusan Tim Sembilan yang dikenal dengan nama Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945, dan seperti yang tercantum dalam UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945. Nugroho menyimpulkan bahwa rumusan Pancasila yang otentik adalah rumusan 18 Agustus 1945 karena Pancasila yang tercantum dalam Pembukaan UUD ’45 dilahirkan secara sah.
Nugroho juga mengatakan bahwa M. Yamin yang pertama kali berpidato tentng Pancasila. Namun, pendapat yang disampaikan oleh Nugroho Notosusanto tersebut sangat berlainan dengan keterangan dari AB Kusuma. AB Kusuma mengatakan bahwa bukan M. Yamin yang pertama kali berpidato menenai Pancasila, namun Soekarno lah yang pertama kali. Sedangkan M. Yamin sendiri mengakui bahwa Soekarno adalah penggali Pancasila. Selain itu, Mohammad Hatta juga mengakui bahwa Soekarno yang pertama kali berpidato tentang Pancasila.
Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulannya bahwa Soekarno adalah penggali Pancasila. Meskipun M. Yamin juga berbicara mengeni dasar negara, tetapi Soekarno lah orang yang secara eksplisit menyampaikan gagasan Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945. Lewat pembicaraan yang panjang oleh para tokoh bangsa Indonesia, akhirnya Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus 1945 yang tercantum dalam Pembukaan UUD ’45. Hal yang perlu diingat adalah bahwa Pancasila yang kita kenal sekarang ini berbeda rumusan dan urutannya dengan konsep Pancasila yang disampaikan Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Namun, rumusan Pancasila yang sekarang tetaplah hasil gagasan Soekarno dan peranan serta jasanya tetap ada. Peranan Soekarno perihal Pancasila dapat dilihat dari beberapa peristiwa yang terkait, diantaranya ialah ketika ia menyampaikannya pada tanggal 1 Juni 1945, menjadi ketua panitia sembilan pada tanggal 22 Juni 1945 yang menghasilkan Piagam Jakarta hingga ditetapkannya Pancasila sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus 1945.
Soal peringatan hari lahirnya Pancasila, kita tidak hanya menghargai Soekarno seorang saja. Namun, kita juga harus menghargai para founding fathers yang telah merumuskan gagasan Pancasila yang telah disampaikan oleh Soekarno hingga menjadi Pancasila yang kita kenal sekarang ini. Selain itu, yang harus kita renungkan adalah bagaimana kita memahami dengan benar Pancasila sebagai ideologi bangsa dan dasar negara serta kemudian mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Achmad Seftian, Pend. Sejarah 2008


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......

Ketika Buruh Menjadi Sebuah Pengantar

Tuesday, 8 June 2010


“Kehidupan buruh tak pernah lepas dari penderitaan yang dibuat dan direncanakan oleh para penindas.”
Buruh adalah penamaan yang diberikan untuk sekelompok kaum pekerja, kuli, petani, pegawai pemerintah, buruh kereta api, perkebunan, industri jasa dan lain-lain.
Begitulah pemakaian istilah buruh atau yang biasa didefinisikan kaum pekerja,saat Indonesia mengalami peristiwa Kolonial pada masa dinasti Belanda. Konotasi buruh mulai terspesialisasi saat negeri ini berada di bawah kepemimpinan Orde Baru, dimana hanya para pekerja pabrik atau pekerja upah harian yang disebut buruh. Hari ini, pemakaian istilah buruh tetap sama dengan istilah buruh pada Orde Baru . Tapi, apapun itu mengenai istilah buruh tetaplah mereka ialah kaum pekerja yang diperkerjakan oleh atasan atau majikan.
Sengketa lahan, minimnya lapangan pekerjaan dan urbanisasi merupakan dampak dari globalisasi yang sekarang terjadi. Indonesia yang belum sepenuhnya tepat disebut sebagai konsep Negara bangsa menjadi negeri ini sebuah pelabuhan imperialisme lama dan imperialisme baru. Ditemukannya alat atau mesin produksi pengganti tenaga manusia membawa dampak sosial ekonomi bagi kaum pekerja dimana mereka yang dulu menggantungkan nasib pada sebuah industri perusahaan kini tergeser lewat mesin produksi yang mampu mewakilkan tenaga manusia dalam membuat suatu hasil produksi barang.

Kelas sosial terbentuk dimana ketika sebuah peradaban membuat tolak ukur kehidupan dengan membedakan jenis kasta pekerjaan dalam dinamika kehidupannya. Perbedaan itu nampak pada kaum pekerja dan para Majikan atau pemilik modal. Kaum pekerjapun terbagi menjadi golongan-golongan yang mengerucut menjadi jurang kehinaan dalam bersosial. Kaum pekerja menengah dimana terdapat mandor/ residen, pegawai pemerintah, guru, dosen, dan para buruh tetap. Kaum pekerja bawah dimana terdapat pembantu, kuli bangunan ,dan kaum pekerja yang di upah harian atau kurang lebih yang menggantungkan nasib pada hari-harinya bekerja. Disinilah terbentuk sebuah pola penindasan antar kelas, entah apa yang membentuk itu.
Dilihat secara histories masalah-masalah sosial atau masalah yang timbul akibat kelas sosial serasa membatasi ruang sosial kaum pekerja dan kaum yang dipekerjakan. Ini pun membawa dampak pada kancah perpolitikan. Globalisasi yang katanya dapat menyatukan ras,golongan dan kelas sosial di dunia ternyata terbalik, globalisasi membawa dampak pada pemusnahan kelas-kelas miskin, maksudnya globalisasi membentuk pola yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.
Pada era dinasti Belanda dan Indonesia yang saat itu sudah memasuki tahap pembentukkan konsep sebuah bangsa terdapat sebuah “politik etis”. Kegiatan balas budi yang diberikan terhadap koloni. Rakyat Indonesia pada saat itu diberi sedikit ruang untuk berpolitik dan berpendidikan. Sesungguhnya jauh sebelum politk etis kondisi indonesia pun tak jauh dengan adanya politik etis, ini berlandaskan pada sebuah makna yang mana penindasan tetap penindasan, penjarahan terhadap kekayaan sebuah bangsa yang tak terbayar secara adil membuat kesengsaraan yang di akibatkan berbagai macam modus penindasan.
Perjalanan buruh pada saat dinasti belanda tak dapat terpisahkan dengan bentuk pergerakannya. Pergerakan yang mana mereka mereka dari tahun ke tahun sampai pada saat dinasti reformasi tetap menuntut Upah dan kondisi kerja yang layak. Yang membedakan pergerakan buruh pada saat dinasti Belanda yaitu pergerakannya terselip politik yang mana bukan hanya memperjuangkan upah dan kondisi kerjanya tapi pergerakan yang mengupayakan pada pelepasan kerangkeng penjajahan belanda kala itu. Meskipun kapasitor buruh hanya sebagai pemain figuran atau yang tepatnya mereka menjadi pejuang garis depan ketika ada sebuah peperangan, dan buruh kala itu menjadi kartu mati sebuah permasalahan yang dapat ditimbulkan sehingga dapat menajdi sebuah pemberontakkan.
Walhasil revolusi 45 telah menancapkan sang merah putih di atas patung Liberty. Indonesia belum memasuki masa kemerdekaan yang sesungguhnya, itu terdapat pada UUD kita ,yang mana kita baru sampai kedepan pintu gerbang kemerdekaan dan belum sedikitpun kita merdeka dari segala macam bentuk penindasan. Banyak persoalan yang terjadi di negeri tercinta ini, penjajahan kulit putih terhadap kita serta penjajahan produk-produk cina terhadap pasar industri kita dan yang lebih menginjak kita yaitu penjajahan cina kulit hitam (Pribumi menjajah pribumi) yang terjadi di segala bidang dalam sendi-sendi kehidupan kita .Secarik pernyataan yang menegaskan bahwa “besar pasak dari pada tiang“ itulah dinamika yang terjadi pada para kaum pekerja kita yang mana sulit untuk menghidupi diri dan keluarga mereka manakala upah yang mereka terima tidak sesuai dengan kebutuhannya. Mereka pun terbentur pada harga kebutuhan yang tidak selalu stabil yang membuat mereka harus mengurangi jatah susu ubtuk anak mereka dan menggantikan Ubi sebagai nasi, makanan pokok untuk mereka makan sehari-hari.
Sekarang sudah banyak terbentuk sarikat-sarikat buruh yang mana sebelum dikeluarkannya SK Menteri Tenaga Kerja no.5 tahun 1998 hanya Federasi Serekat Pekerja Seluruh Indonsia (FSPSI) yang menjadi sarana organisasi berpolitik bagi para buruh berikut serikat buruh yang terbentuk hanya sebatas cabng-cabang wilayahnya. Adanya serikat buruh tidak dapat berjalan mulus. Serikat yang pada sifatnya sangat rentan dengan perpecahan,kedua adalah perbedaan pada orientasi serikat dan ketiga sifat yang eksklusif. Masalah ke-eksklusifan ini menjadi cirri pokok pada serikat ,ketika buruh memilih berserikat bagi kelompok-kelompok lain seperti golongan intelektual atau kaum pekerja liberal tidak dapat menarik perhatian dan buruh sulit mendapat dukungan bagi perjuangannya. Jikalau ada aliansi-aliansi yang terbentuk antara buruh , nelayan dan petani ,itupun sifatnya dipermukaan saja dan bukan merupakan strategi permanen dan melekat dalam keseluruhan strategi perjuangan mereka. Terkadang ke-ekslusifan terjadi antar sesama serikat yang mana penyebabnya ialah ke-eksistensian mereka pada serikat.
Lalu bagaimana dengan kaum intelektual atau kaum elit menengah seperti kita ini? Ataukah kita menutup dan membutakan mata kita terhadap dinamika kehidupan kaum pekerja yang mana mereka kaum pekerja telah dapat membangun suatu oraganisasi modern serta strategi-strategi pergerakannya dan kita sebagai intelektual hanya menganggap mereka adalah sebagian kecil dari proses terbentuknya suatu globalisasi.Bentuk perjuangan mereka adalah sendi dari pendidikan yang kita dapat. Tidak serta merta mereka terlupakan oleh sejarah kita .Dimana sejarah hanya terdapat peristiwa yang dilakukan oleh orang-orang besar ,orang-orang yang kita anggap “founding father” bangsa kita . Padahal jika berpaling ke esensi sejarah bahwa sejarah ialah peristiwa kemanusiaan yang tidak memandang suatu golongan ,kita seharusnya berkewajiban mengungkap bentuk-betuk peristiwa sekecil apapun yang pernah terjadi pada masa-masa yang pernah terlewati.
Lalu kembali pada dinamika kehidupan buruh , dari masa ke masa hubungan perburuhan antara buruh-majikan seharusnya menjadi hubungan industrial yang harmonis ,dimana posisi buruh dan majikan adalah setara dan keduanya memiliki kepentingan yang sama serta dimana Negara berperan mengayomi keduanya . Menurut Karl Marx, negara adalah tak lain dan tak bukan hanya menjadi alat penindas bagi satu kaum menindas kaum lainnya.


Satrio, Pend. Sejarah 2009


Share/Bookmark Baca Selengkapnya......