Rantau nan Batuah

Share

Jumat, 04 Juni 2010


Penyatuan kebangsaan Indonesia dimulai ketika adanya penyatuan lokalitas dari berbagai daerah. Pada masa pergerakan, antara 1927 sampai 1945 para pemimpin partai, ormas dll mengikrarkan satu hal yang sama yakni Indonesia. Jelas pada masa itu perjuangan intelektual Indonesia di dasarkan rasa nasionalismenya terhadap Negara, bukan chauvisme terhadap daerah- daerah asal.

Namun seiring perkembangan sejarah, Jawa merupakan komponen daerah terbesar pusat dari segala perjuangan meskipun didalamnya banyak sekali tokoh-tokoh kebangsaan yang berasal dari luar Jawa. Minangkabau merupakan salah satu penghasil tokoh-tokoh besar dalam sejarah, namun karena sentralisasi jawa dalam sejarah, tidak mengenal daerah Minang sebagai produksi intelektualitas.

Bukti bersejarah yang terpenting adalah terbentuknya Indisce Vereniging(1) di negeri yang pada saat itu menjadi koloni di Indonesia yakni Belanda. Organisasi itu di bentuk dalam waktu yang bersamaan dengan terbentuknya organisasi di Jawa yakni Boedi Oetomo pada 1908 yang di ketuai oleh Iwa Kusumasumantri yang merupakan mahasiwa berasal dari Minang. Namun dalam perkembangan sejarah, peran IV seakan-akan dikesampingkan, hal tersebut dapat dilihat sampai sekarang dengan masih diagungkannya BO sebagai organisasi yang bersifat nasional, walaupun kenyatanya organisasi ini bersifat kedaerahan. Walaupun demikian, sejarah adalah sesuatu yang mutlak, oleh karena itu, walaupun Jawa adalah pemegang sejarah. Namun perlua adanya evaluasi dan mencoba untuk mengkaji sejarah tidak hanya dari prespektif Jawa.


1.Karakter dan falsafah adat Minangkabau
Masyarakat Minangkabau memiliki ciri khas dinamisme dan anti-parokhalisme keinginan menjadi yang lebih baik tersebut timbul dalam falsafah adat dan menjadi prinsip bagi masyarakat Minangkabau . Melalui struktur pengalamannya, masyarakat Minangkabau memiliki prespektif bahwa adat dan falsafah Minangkabau memandang konflik sebagai esensil untuk mencapai dan memepertahankan integrasi kebudayaan. Pertahanan ini timbul dalam adat istriadat masyarakat Minangkabau yang memiliki kemampuan kecerdasan sehingga membawanya kearah dinamisme. Kecardasan itu berangkat dari legenda yang sangat terkenal di Sumatera Barat mengenai hubungan orang Jawa dengan orang Minangkabau. Salah satu cerita yang paling terkenal adalah ekspedisi Raja Kerta Negara ke Sumatera pada abad 13. Dalam menghadapi serangan Jawa, masyarakat Minang perlu bersatu. Namun mereka berfikir, perlawanan secara frontal akan membuat mereka kalah. Kepada Kerajaan Jawa, mereka mengusulkan untuk berperang dengan cara adu kerbau, panglima Jawa menyetujui usul itu dan memilih kerbau yang besar dan paling galak sebagai utusannya. Sedangkan masyarakat Minangkabau mengelabui pihak Jawa dengan cara tipu daya, mereka mengutus anak kerbau yang tidak makan dan diberi susu selama beberapa hari, sebelum adu kerbau, anak kerbau tadi di ikat diatas kepalanya dua pisau. Pertarungan kerbau itu dimulai, dan dapat terlihat jelas bahwa yang menang adalah kerbau yang kecil karena kerbau dari pihak Jawa menurut perkiraan kerbau kecil adalah induknya, lalu kerbau kecil tersebut mengejar induknya dan menanduk-nanduk perut kerbau besar itu dengan kepala yang telah terdapat pisau. Karena kemenangan ini, masyarakat Minang mengabadikannya dengan nama Minangkabau yang berarti menang kerbau. Dari legenda tesebut menyulut keyakinan bahwa masyarakat Minang memiliki intekektual yang tinggi(2).

Selain memiliki sifat dinamis dan intelektual yang tinggi. Masyarakat Minang juga memiliki Kemampuan adat bertahan melawan perkembangan zaman yang mampu merubah paradigma berfikir dan sikap mampu di maksimalkan dengan pengembangan diri menerima hasil pembaharuan. Penerimaan tersebut merupakan salah satu kebutuhan untuk terciptanya pembawaan masyarakat menjadi yang lebih baik. Namun tidak menghilangkan dasar adat yang telah tertanam dalam masyarakatnya, karena masyarakat Minangkabau sangat mempertahankan adat sebagai pondasi ciri masyarakatnya. Walaupun demikian tidak berarti bahwa menolak unsur-unsur budaya baru, bila budaya tersebut dianggap baik maka adat Minangkabau menerima dan mengakulturasikan kedalam budayanya. seperti masuknya masuknya Islam (agama). Hasil dari pembauran itu semua dapat dilihat bagaimana jati diri masyarakat Minangkabau mendorong proses moderinisasi demi tercapainya kemajuan(3).

Keterbuakaan diri adat Minagkabau juga disesuaikan pada tuntutan perkembangan zaman. Tetapi pada saat yang bersamaan masyarakat Minangkabau mampu mempertahankan karakter dan bentuk asli dari adat dan falsafahnya. Masuknya budaya baru ke dalam diri mereka, tidak berarti merusak atau melemahkan adat, tetapi mampu memperkuat dan memperkaya adat yang telah ada(4). Itu dikarenakan ada proses dinamika untuk mengambil mana yang baik mana yang buruk dari pembauran adat tersebut.

2. Nilai Falsafah Perantauan
Pergi merantau menurut falsafah Minangkabau berarti membuka mata warga Minang untuk mengenal dunia luar yang luas dimana mereka akan menemui hal-hal yang baru yang akan di bawa pulang(5). Perantauan ini memakan waktu yang lama, hal ini dikarenakan perbedaan dalam tujuan merantaunya, ada yang bekerja ataupun menuntut ilmu. Dalam kisah pribadi sejarahwan Taufik Abdullah bagaimana waktu lama selama merantau itu menjadi suatu kebiasaan yang wajar.

Betapa saya ingin berandai-andai dengan para penumpang bis ini. Tetapi dengan siapa? Terasa seakan-akan hanya saya saja yang sendirian tanpa teman. Duduk dikursi paing belakang, akhirnya saya ringankan saja mulut untuk berkata pada kenek bis, “sudah empat tahun tak pulang” kata saya memberi senyum minta simpati. Tetapi sayang, ia hanya merangguk dan memberi komentar pendek “biasa!”. Dan saya pun kehilangan bahan pembicaraan, betapa besar harapan saya agar ia mau saja bertanya meski berlalu saja “mengapa?” dan saya pun tentu akan menceritakan sekedarnya(6).

Kisah tersebut merupakan gambaran bahwa masyarakat Minang tidak akan pulang sebelum menjadi “pemenang”(7). Dasar perantauan mereka dilandasi niat dan tekat yang matang, walaupun daerah tersebut belum diketahui sebelumnya.

Dalam adat Minangkabau perantauan di istilahkan sebagai rantau nan batuah yakni suatu ajaran kultur yang mendorong para remaja Minang untuk keluar kampung halamannya. Kata bertuah (8)maksudnya daerah yang tidak dikenal atau menakutkan. Namun itu adalah sebuah tantangan dan harus dilaksanakan dengan keteguhan hati. Oleh karena itu, si perantau harus memiliki niat dan tekat untuk merantau meski daerah tersebut tidak ia kenal sama sekali. Selain itu, perantauan juga dapat membuka mata para warganya untuk mengenal dunia luar yang luas dimana mereka akan menemukan hal-hal baru yang nanti akan dibawa pulang(9). Intinya kemanapun si perantau pergi, ia akan kembali lagi ke halamannya dengan segala barang bawaannya, baik harta maupun ilmu. Sebagai contoh, Pada masa pergerakan, banyak tokoh-tokoh besar lahir dari produk perantauan, hal tersebut dapat dilihat bagaimana pada 1908 para mahasiswa-mahasiswa Minang melanjutkan sekolah sampai di negeri Belanda, hasilnya mereka membentuk suatu perkumpulan yang bernama Perhimpunan Indonesia yang menghasilkan orang-orang besar yang berasal dari ranah Minang seperti Iwa Kusumasumantri, Sjafrudin Perwiranegara, Moh Hatta dan Sjahrir.

Pada dasarnya, banyak sekali pendapat yang mengatakan bahwa definisi rantau seakan-akan mencari uang dan harta. Lain daripada itu, ilmu merupakan tujuan sesungguhnya. Pada nantinya mereka akan memainkan peran sebagai guru atau ulama sehingga masyarakat bisa ikut menerima apa yang baik dan apa yang buruk. Ini merupakan keselarasan bagaimana adat dan falsafah Minang adalah adat yang terbuka dalam menerima sesuatu demi tercapainya moderenisasi.

Visi dan adat Minangkabau, menuntun kepada warganya untuk menyelaraskan dan membandingkan dunia tempat asalnya dengan dunia yang mereka singgahi selama perantauan. Itu dikarenakan sebagai pemilahan budaya luar yang masuk kedalam adat istiadat Minang, sehingga dapat diketahui yang mana yang baik dan yang mana yang buruk dan yang mesti diserap(10).

3. Pemenang dalam Perantauan.
Sejarahwan Taufik Abdullah mengungkapkan bahwa tokoh-tokoh besar dalam dinamika sejarah Indonesia merupakan orang-orang yang berasal dari Minangkabau, “pemenang dirantau”(11) begitulah ungkapan yang biasa ia katakan sebagai kebanggaan bagaimana banyak “orang awak” mampu bersaing dengan orang-orang luar. Selain itu, kebanggaan besar lainnya kemenangan yang diperoleh “orang awak” tersebut tidak hanya material, tetapi juga pemikiran-pemikiran yang sangat berguna bagi bangsa dan negaranya seperti: Tan Malaka, Moh Hatta dll.

CATATAN KAKI
1. Suwidi Tono, Maha Karya Soekarno-Hatta (Jakarta : Vision, 2009) hal. 95-96. Organisasi perkumpulan mahasiswa Indonesia di Belanda yang berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia.
2. Audrey Kahin, dari Pemberontakan ke Integrasi (Jakarta : Obor, 2008), hal.6.
3. Alfian, Tan Malaka: Pejuang Revolusioner yang Kesepian, prisma, no. 7 (1988), hal. 60.
4. Ibid.
5. Ibid., hal.61.
6. Audrey Kahin, Op. Cit., Xii. Sebuah pengantar dari Taufik Abdullah mengenai buku tersebut.
7. Kata yang diucapkan oleh Taufik Abdullah melihat kesuksesan para perantau dari tanah minang di daerah perantauannya, seperti para tokoh nasional yakn, M. Yamin,M.Hatta, Tan Malaka, Sjahrir dll.
8. Ada perbedaan kata antara bahasa melayu dengan minang dalam mendefinisikan kata bertuah. Bagi bahasa Melayu bertuah artinya keberuntungan. Bagi bahasa minang berarti tidak dikenal atau menakutkan.
9. Alfian, Loc. Cit.
10. Alfian, Op. Cit., hal. 62.
11. Audrey Kahin, Lo. Cit., hal. xvi.

DAFTAR PUSTAKA
Alfian, Tan Malaka: Pejuang Revolusioner yang Kesepian, prisma, no. 7 (1988)
Kahin, Audrey, dari Pemberontakan ke Integrasi (Jakarta: Obor, 2008)
Kompas (Jakarta), 26 Mei 1984
Tono, Suwidi, Mahakarya Soekarno-Hatta (Jakarta : Vision, 2009)

Okto Dellon (Pend Sejarah TA 2008)

0 komentar: