Tugu Selamat Datang & Kisah Henk Ngantung

Share

Senin, 12 April 2010

Akhir-akhir ini di media masa banyak diberitakan mengenai kasus persengketaan logo sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta yang masih satu komplek dengan bundaran hotel Indonesia yaitu GRAND INDONESIA. Kasus ini mencuat karena pihak GRAND INDONESIA tidak pernah meminta izin untuk menggunakan logo patung selamat datang tersebut kepada pemilik dari sketsa patung selamat datang tersebut yakni Henk Ngantung.
Logo dari Grand Indonesia tersebut merupakan intepretasi dari patung selamat datang yang ada di dalam bundaran hotel Indonesia. Patung selamat datang ini dibuat pada tahun 1962, dalam rangka persiapan penyambutan kontingen-kontingen olahraga dalam ASIAN GAMES ke IV di Jakarta, hal itu bisa dilihat dari sepasang pemuda-pemudi yang menggenggam bunga. Sketsa dari patung selamat datang tersebut dibuat oleh Henk Ngantung.


Henk Ngantung lahir di Manado pada tahun 1921 dan wafat di Jakarta pada 12 Desember 1991. Almarhum merupakan gubernur DKI Jakarta yang menjabat selama periode revolusi yakni 1964-1965. Semasa hidupnya Henk Ngantung menjalani berbagai organisasi maupun profesi, diantranya Henk Ngantung pernah menjadi pengurus Lembaga Persahabatan Indonesia Tiongkok pada tahun 1955-1958, serta Henk Ngantung juga pernah menjadi pengurus organisasi LEKRA yang notabene merupakan organisasi yang berafiliasi dengan PKI pada masa itu, semasa berorganisasi di LEKRA ia menjadi seorang pelukis dan budayawan, Ialu Ia juga memprakarsai berdirinya Sanggar Gotong Royong.
Selama menjalani profesi sebagai pelukis, Henk mendirikan Gelanggang bersama Asrul Sani dan Chairil Anwar, Ia dikenal sebagai seorang pelukis yang tidak menjalani pendidikan formal, walaupun ia tidak pernah menjalani pendidikan formal ia pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur DKI Jakarta sebelum diangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta pada periode 1964-1965. Namun nasib sial dialami oleh Henk Ngantung. Selama Ia menjabat sebagai Gubernur, banyak kalangan yang protes karena Henk hanya memiliki bakat artistik tanpa dibarengi dengan pendidikan formal, dan Henk tiba-tiba diberhentikan sebagai Gubernur DKI Jakarta pada saat setelah terjadinya peristiwa G30S karena keterlibatan ia sebagai pengurus LEKRA yang menyebabkan Ia dicap sebagai antek PKI.
Selama tidak menjabat sebagai Gubernur, Henk Ngantung hidup dalam derita kemiskinan. Ia menjual rumahnya di pusat kota untuk pindah ke perkampungan, derita Henk Ngantung tidak hanya berhenti sampai disini, masyarakat dan rezim orde baru yang mencap dia sebagai anggota PKI tanpa pernah diadili maupun disidang membuat ia menderita hingga pada akhir hayatnya Ia meninggal dikediamannya, sebuah rumah kecil yang terletak di gang sempit di kawasan Cawang, Jakarta Timur.

Sumber:
- _______., Sejarah Singkat Patung-Patung dan Monumen di Jakarta, Jakarta: Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Dinas Museum dan Sejarah, 1992.
- http://ariesaksono.wordpress.com/2007/12/19/patung-selamat-datang-bundaran-hi/
- http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/04/01/nrs,20040401-01,id.html
- http://id.wikipedia.org/wiki/Henkngantung

Mahendra Setiawan (Pend Sejarah 08)

0 komentar: