Pseudo Love

Share

Jumat, 23 April 2010

Kalo kita berduaan kya gini,
dunia serasa milik berdua..ya..yank..

Zaman telah berganti,tindak-tanduk manusia pun berubah sesuai dengan kebudayaan yang di lahirkanya. Perjalanan panjang itu berhasil juga membangun karakter sekaligus menggeser makna Cinta dalam masyarakat modren saat ini.
Kata di atas tanpa disadari adalah alam bawah sadar mereka yang di ungkapkan ketika berduaan di taman lancongan atau tempat sejenisnya yang biasa di gunakan pemuda dan pemudi bercinta. Dunia yang begitu luas dan banyak manusia-manusia yang bergerak dan hidup ini dianggap ngontrak bahkan gak ada, pantas ketika sedang asik berduaan,seorang ibu di rumah memanggil atau kawan di tongkrongan butuh makan mereka tak menghiraukan bak angin ribut yang mengganggu suasana yang baginya romantis. Sungguh tragis Cinta di bunuh Cinta.

Homo Homini Lupus

Bisa jadi ini yang terjadi ketika cinta di artikan menjadi seperti itu, manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya seperti Thomas Hobes katakan, tapi apa benar bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi mangsa dan pemangsa bagi sesamanya?? Saya fikir Tuhan tidak sebodoh dan sekejam itu membangun permainan yang disebut “Dunia” ini. Seandainya keterlemparan kita ke dunia ini di awali proses diskusi dengan Tuhan, tentunya saya akan menolak saat akan di lemparkan ke dunia ini,namun Tuhan tidak sekejam apa yang di bilang oleh Hobes, dialah sang Rahman dan Rohhim yang juga penuh Cinta Kasih. Segelintir manusia berusaha keluar dari logika persepsi seperti itu. Praktek Cinta yang seseungguhnya adalah ‘memberi’, namun bukan sekedar kemudian “memberi”; pengorbanan-bertanggung jawab-perhatian- dll. Lebih dari itu semua,kata ‘memberi’ menjadi pelengkap dari kemanusiaan, juga dia memberikan apa yang ada dalam dirinya; dia juga memberikan kegembiraan, kepentinggannya, pemahamanya, pengetauanya, kejenakaanya, kesedihannya- semua ekspresi serta manifestasi yang ada di dalam dirinya yang hidup. Tidak sekadar dengan kekasih bahkan melampaui seorang kekasih yakni orang banyak. Kita telah memperkaya orang lain, meningkatkan prasaan hidup orang lain lewat peningkatan perasaan hidupnya sendiri.

Ternyata menjalin asmara tak sekedar bahasa,
Aplikasi teori lebih dari logika

Harusnya cinta bisa membangun persekawanan yang lebih berarti dari yang sudah ada sebelum-sebelumnya, bukan karena ada sesuatu yang kita inginkan kemudian kita tampil menjadi sesosok yang care- namun harus lebih dari itu. Karena ada cinta dan kemanusian lah kita hadir di sela-sela persekawanan.

Kenang Kelana (Pend Sejarah 07)

2 komentar:

History mengatakan...

cukup menarik bung iken...

Kelana mengatakan...

menarik narik..
tarikk..